Yahya YOUTH


GP Yahya??

GERAKAN PEMUDA (GP)
GP GPIB baru terbentuk pada 15 Juli 1950. Melalui pembentukan Dewan Pemuda yang mengkoordiinasi kegiatan-kegiatan pelayanan pemuda dan sekolah minggu.(dan akhirnya sekarang disebut dengan BPK GERAKAN PEMUDA)

VISI: MISI BPK GP GPIB
Menjadikan Pemuda GPIB yang Misioner – dalam hal :
1. Benteng Iman / Spiritualitas
2. Sosialisasi (Program)
3. Wawasan Kebangsaan Global (Oikumene Gereja-Gereja)
4. Kader Gerja dan masyarakat
5. Pembinaan yang tepat guna
GP GPIB Yahya
Gerakan Pemuda GPIB Yahya merupakan salah satu Badan Pelayanan Kategorial (BPK) GPIB Jemaat Yahya sebagai wadah pembinaan warga GPIB yang berusia 18-35 tahun.

Susunan Pengurus GP GPIB Yahya periode 2007-2012:
Ketua: Samuel C Pantou
Wakil Ketua: Robin Sitorus
Sekretaris: Elfa Karwur
Bendahara: Silviarani S.
Bid. Imaji: Yunita Sinaga
Bid. Pel. Kes.: Yohanes Sitorus
Bid. Med. Info.: Alwin Tairas

Kegiatan Rutin: Ibadah GP: Setiap Sabtu jam 17.00
Latihan Paduan Suara GP: Setiap Minggu jam 12.00
Penerbitan Buletin Misioner: Sebulan sekali di pertengahan bulan

Anggota GP GPIB Yahya adalah seluruh pemuda pemudi yang merupakan anggota jemaat GPIB Yahya dan berumur 18-35 tahun.
strikeitalicbold

misc
Kritik dan Saran

ShoutMix chat widget

friends
Channel GP
GP Yahya Facebook
GP Yahya Friendster

thanks
© * étoile filante
inspiration/colours: mintyapple
icons: cablelines
reference: x / x

past
November 2007
Juni 2008
September 2008
Juni 2009
Juli 2009
title: Maknailah Pendidikan
date: Minggu, 26 Juli 2009
time:7/26/2009 09:53:00 AM
Kapan sich, pendidikan itu dimulai? Dan sampai kapan pendidikan itu akan berakhir? Belajar itu merupakan bagian kecil dari pendidikan, jadi di dalam pendidikan terdapat proses belajar!!! Ingat belajar itu proses, sehingga pendidikan itu juga proses yang berjalan terus-menerus tanpa henti dan tanpa akhir bagi yang belajar. Life long education, begitu kalau kata orang pintar!!!
Dalam pendidikan ada konseling, coaching dan studying. Kita akan mulai membahas yang STUDYING=BELAJAR. Belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap melalui melihat, mendengar dan mencoba yang dicerna dalam pikirannya sehingga menjadi pengetahuan, tata nilai dan keterampilan. Tiga ranah domain ini yang selama ini menjadi pedoman para guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran. Setiap peserta didik diajar dengan berbagai macam metode dan media sehingga terjadi proses belajar; dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang kurang percaya diri timbul rasa percaya diri, dari yang tidak terampil berbicara di depan umum dilatih menjadi berani bicara di depan umum. Tiga ranah ini yang umum dikembangkan oleh para guru atau pendidik. Pengembangan tiga ranah ini ridak hanya terjadi di ruang lingkup sekolah, yang dibatasi oleh tembok saja atau batasan formal berupa kurikulum dan status guru-murid; tetapi belajar bisa berlangsung dimana saja dan kapan saja dan oleh siapa saja. Jadi yang disebut guru adalah siapa saja yang memfasilitasi terjadinya proses belajar dan yang disebut murid yaitu juga siapa saja yang mendapatkan pengetahuan, tata nilai dan keterampilan yang baru. Jadi kita semua adalah guru dan kita semua adalah murid, tergantung apa peran yang diambil pada saat terjadinya proses pembelajaran.

Apa kata firman Tuhan mengenai pendidikan?
Banyak bahasan tentang pendidikan di dalam firman Tuhan, kata pendidikan sangat banyak. Coba kita lihat bersama dalam Kitab Amsal. Dalam kitab Amsal pasal 1 s/d 7 semuanya berisi tentang ajaran, nasehat dan didikan; tiga unsur ini merupakan isi dari pendidikan. Terkhusus pada Amsal 6:20, ”Hai anakku, peliharalah perintah ayahmu, dan janganlah menyia-nyaiakan ajaran ibumu.” Pada ayat ini ajaran ditekankan untuk memelihara perintah seorang guru yaitu ayah dan larangan untuk menyia-nyiakan ajaran sang ibu yang bertindak sebagai guru. Lihat pendidikan dianggap begitu penting oleh Tuhan. Ada gambaran yang sangat mendalam, bahwa bembelajaran itu berlangsung begitu awal yaitu hubungan yang dekat yaitu antara anak dan orang tuanya, tidak siswa dengan seorang professor. Jadi pendidikan itu harus berlangsung pertama dan utama dalam kehidupan manusia dalam keluarga.

Bagaimana proses awal mula (tujuan awal) pendidikan itu terbentuk?
Pendidikan itu dijadikan alat oleh Tuhan untuk membentuk manusia berbeda dengan makhluk yang lain. Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Tuhan tidak memarahi manusia yang telah tidak taat kepada peraturan Allah. Tuhan bertindak sebagai guru yang mengajar dengan menggunakan metode tanya-jawab. Tuhan bertanya kepada Adam, di manakah engkau? Dari pertanyaan ini Adam harus berpikir keras untuk menjawabnya, unsur pengetahuan (di mana Adam berada), unsur tata nilai (kejujuran), unsur keterampilan (bagaimana cara menjawab pertanyaan tersebut). Hanya satu kali session belajar Tuhan sudah mendapatkan banyak hal dalam proses pembelajaran. Jadi kapan proses belajar itu terbentuk? Diawali sejak adanya hubungan antara manusia dengan Allah. Di situlah proses belajar dibentuk secara intens dan terus menerus sampai dengan sekarang yang kurikulumnya ditata sedemikian rupa menjadi pedoman dalam proses pembelajaran di sekolah. Note : Sekolah itu tempat belajar yang kurikulumnya ditata dan jadwalnya teratur.

Proses pembelajaran seperti apa yang harus kita lakukan agar menjadi berkat?

Sekalipun kita tidak berprofesi sebagai guru, tetapi kita bisa mengambil peran sebagai guru. Setiap kita berinteraksi dengan orang lain itu berarti akan berlangsung yang namanya proses pendidikan, hanya saja kita bertindak sebagai siswa atau sebagai guru. Sebagai siswa atau sebagai guru kita sedang mengambil peran penting di dalamnya. Guru dan siswa sama-sama penting, tidak ada yang melebihi satu dengan lainnya. Maka dari itu jadilah guru yang baik ketika bertemu dengan siswa dan jadilah siswa yang baik ketika bertemu guru. Sisi negatifnya adalah sebagai guru kita bisa memberi teladan yang mengembangkan pengetahuan, tata nilai dan keterampilan yang tidak baik di depan murid-murid kita. Sebagai guru kita bisa membunuh minat, cita-cita dan bakat yang akan dikembangkan oleh siswa-siswa kita. Tetapi sisi positifnya adalah sebagai guru kita juga bisa memberi teladan yang baik dalam bertutur kata, berpikir dan bertindak. Dan sebagai guru kita juga bisa menggali karunia-karunia yang ada dalam diri siswa kita, mengembangkannya melalui pertemanan (proses belajar), memperbaikinya bila terjadi kesalahan perkembangan cara berpikir pada siswa-siswa kita (konseling), dan menemukan sesuatu yang baru sebagai langkah lanjut dari proses perbaikan dan pengembangan (coaching).
Yang perlu direnungkan adalah mau menjadi guru seperti apa kita dalam pertemanan (pergaulan) ketika kita bertindak sebagai guru dan mau menjadi murid seperti apa kita ketika kita berttemu guru yang sarat dengan materi pelajaran yang dibawa dari Tuhan???
Mari belajar menjadi seorang guru dan sekaligus siswa yang baik di mata Tuhan!!!
Tuhan memberkati!!!!





by : Penatua Budi Rinekso

Label: ,



comment? / top


title: Komitmen dalam Melayani
date: Jumat, 17 Juli 2009
time:7/17/2009 07:24:00 PM
CATATAN TENTANG KOMITMEN & PELAYANAN
Komitmen
Kata "komitmen" tentu bukan kata yang asing karena sudah terlalu sering didengar dan diperdengarkan oleh banyak orang tanpa memandang status sosial, jabatan, atau pangkat. Secara sederhana komitmen berarti perjanjian untuk melakukan sesuatu, baik dengan diri sendiri, orang lain, suatu organisasi (baca: gereja), maupun dengan TUHAN. Komitmen juga dapat diartikan sebagai pernyataan kehendak atau janji untuk dengan setia melakukan sesuatu yang telah diputuskan. Dengan demikian berkomitmen jelas membutuhkan pengorbanan dan pengabdian. Rasul Paulus adalah contoh yang paling hebat untuk menjadi teladan dan panutan dalam pelayanan yang berlandaskan pada komitmen. Dengan mengacu pada Rasul Paulus maka komitmen dalam pelayanan adalah suatu keharusan alias wajib hukumnya karena sejatinya (1) komitmen adalah dasar bagi seseorang untuk terlibat dalam pelayanan dan (2) kesetiaan seseorang dalam pelayanan tergantung bagaimana orang tersebut memegang komitmennya di hadapan ALLAH. Paulus di dalam surat-suratnya ke jemaat kristen mula-mula selalu mengingatkan serta mendorong umat agar membuat “komitmen” untuk menyerahkan hidup kepada TUHAN (Roma 6:13; 12:1). Bukan hanya membuat “komitmen”, tetapi juga harus setia dan memegang teguh “komitmen” itu sampai akhir hidup (2 Timotius 4:7-8). Berikrar untuk berkomitmen penuh untuk melayani dan setia serta memegang teguh “komitmen” sampai akhir hayat memang tidak mudah; namun sesungguhnya bukan sesuatu yang mustahil, asalkan: (1) punya keberanian untuk mengambil langkah pertama, yakni berkomitmen dalam pelayanan dan (2) hanya mengandalkan TUHAN dalam menunaikan tugas pelayanan karena TUHAN.
Perlu dicatat bahwa salah satu unsur terpenting yang menentukan seseorang akan berhasil dan mendapatkan segalanya adalah komitmen. Dengan demikian komitmen tidak hanya sekadar percaya pada sesuatu, melainkan antara lain:

1. Menepati Apa yang Anda Katakan (Konsisten)
Dalam keluarga, sangat penting bagi setiap suami dan istri untuk memiliki komitmen atas pernikahan dan atas pasangan hidupnya. Setiap suami maupun istri harus menjaga janji pernikahan sebagai suatu ikatan suci. Tidak hanya dalam keluarga, tetapi dalam setiap bidang, komitmen sangat penting dan diperlukan. Demikan pula di gereja, adalah sangat penting apabila pihak yang dilayani dapat mempercayai pihak yang melayani. Oleh karena itu, semua pihak yang terkait (stakeholder pelayanan), tanpa terkecuali, harus konsisten pada komitmen yang sudah diikrarkan. Apabila mengatakan akan melakukan sesuatu maka lakukanlah. Misalnya mengatakan akan datang tepat waktu maka datanglah tepat waktu. Keterlambatan alias jam karet yang terus-menerus menandakan kelemahan. Tidak cukup hanya dengan minta maaf atau memberi alasan mengapa terlambat atau gagal tepat waktu. Tidak seorang pun yang menginginkan alasan! Tidak seorang pun juga yang berhak melalaikan orang lain hanya karena merasa tidak nyaman atau karena sedang mempunyai masalah. Di setiap gereja, orang-orang yang telah menerima tanggung jawab dan melakukan tanggung jawab itu bisa mengatasi segala rintangan yang ada dengan komitmen. Pelajarilah sejarah perkembangan gereja maka akan ditemukan begitu banyak contoh tentang komitmen. Walaupun mengalami luka fisik, luka hati, depresi, dan sebagainya, konsistensi terhadap komitmen dalam memenuhi panggilan dan pengutusan TUHAN membuat pertumbuhan gereja di seluruh dunia demikian dahsyatnya. Dengan demikian komitmen adalah kekonsistenan dalam pelayanan. Dari awal sampai saat ini gereja berakar, bertumbuh, dan berbuah karena konsisten terhadap komitmen.

2. Berani Mengambil Resiko
Komitmen berarti menerima tanggung jawab untuk mengemban suatu tugas tertentu, meskipun pada saat itu ada perasaan yang mengatakan bahwa hanya orang-orang tertentulah yang bisa melayani. Contohnya adalah pelayanan anak di setiap gereja. Banyak orang tua yang beranggapan dan melihat bahwa pelayanan kepada anak hanya menjadi tugas dan tanggungjawab para pengurus atau para pelayan anak. Padahal alkitab (Ulangan 6:6-7) mengatakan bahwa saat TUHAN menganugerahkan seorang anak maka setiap orang tua harus mengajar anak-anaknya tentang TUHAN berulang-ulang. Itu berarti sesungguhnya TUHAN sudah memperlengkapi setiap orang tua dengan karunia untuk membesarkan, menjaga, dan mendidik serta mengajar anak-anaknya. Dengan demikian para orang tua tidak bisa terus-menerus melimpahkan tugas tanggung jawab mengajar anak-anaknya kepada sekolah-sekolah negeri, swasta, atau gereja (baca: pengurus atau pelayan anak). Ini adalah tanggung jawab setiap orang tua. Kebenaran yang sama juga ada dalam hal-hal lain dalam hidup ini.

3. Komitmen yang Berdasarkan Kasih TUHAN YESUS
Banyak orang seringkali merasa bahwa mereka tidak diperlengkapi dengan karunia untuk melayani sehingga percaya harus meniru orang lain supaya bisa efektif. Namun sejatinya, hal tersebut adalah tugas dan pekerjaan atau pelayanan yang muncul dari hati setiap orang tanpa terkecuali. Keterampilan dan talenta akan muncul seiring dengan kasih sesuai dengan yang dikerjakan. Bila menunggu talenta atau keterampilan itu muncul sebelum membagikan talenta yang dimiliki maka sesungguhnya pelayanan tidak akan pernah terwujud. Itu berarti kesempatan yang unik untuk melayani akan hilang. Terjebak pada perasaan sangatlah mudah. Misalnya ketika bangun tidur, muncul perasaan tidak suka untuk melakukan sesuatu sehingga tidak jadi untuk melakukannya. Ingatlah, ini sangat meringankan ”iblis” untuk mencuri sukacita dan kontribusi dalam menyatakan INJIL TUHAN YESUS dan menghadirkan kerajaan ALLAH. Oleh karenanya, tanpa terkecuali, setiap orang yang berakar dan bertumbuh di gereja harus belajar untuk hidup dengan komitmen guna menghasilkan buah-buah kasih. Dengan demikian siapapun yang ada dan hidup dalam konteks gereja harus belajar menjalani kehidupan sesuai komitmen yang didasarkan atas kasih TUHAN YESUS.

Pelayanan
Untuk siapakah pelayanan itu? Untuk keluarga atau sekelompok orang tertentukah? Atau untuk gereja? Pelayanan yang berlandaskan pada komitmen sesungguhnya hanya untuk kemuliaan TUHAN semata. Inilah wujud nyata dari respon umat percaya atas kasih anugerah yang telah TUHAN nyatakan melalui kematian dan kebangkitan YESUS KRISTUS. Melalui pelayanan yang dilandasi oleh komitmen maka semua orang akan dapat menyaksikan, mendengar, dan bahkan melihat, dan bahkan merasakan, betapa TUHAN teramat mencintai dan mengasihi umat ciptaanNYA.
Sehubungan dengan hal di atas maka pelayanan di setiap gereja sejatinya harus meliputi (1) pelayanan ke dalam (Galatia 5:13) dan (2) pelayanan ke luar (Yakobus 1:27). Pelayanan ke dalam dilakukan untuk pendewasaan rohani dan pertumbuhan iman, baik pihak yang melayani maupun yang dilayani (baca: umat). Pelayanan ke luar pada dasarnya dilakukan karena persekutuan umat percaya adalah ”gereja” (baca: ekklesia) yaitu persekutuan umat yang percaya kepada TUHAN YESUS dan dipanggil serta di utus ke tengah dunia. Artinya, sebagai gereja, umat percaya harus memberitakan INJIL TUHAN YESUS dan menghadirkan sukacita dan damai sejahtera TUHAN ke sesama dengan cara menyisihkan sebagian berkat yang dimiliki untuk sesama. GPIB menampung pelayanan yang dilakukan dalam 10 bidang, yaitu: Bidang IAI (teologia), Bidang Pelayanan dan Kesaksian, Bidang Perencanaan & Pembinaan SDI, Bidang Pendidikan, Bidang Pelayanan Kategorial, Bidang Gereja & Masyarakat, Bidang Organisasi & Komunikasi, Bidang Penelitian & Pengembangan, Bidang Ekubang (Daya & Dana), Bidang Umum. Dalam perumpamaanNYA, TUHAN YESUS mengungkapkan tentang pelayananan yang baik dari seorang pelayan (lih.: Lukas 19:17). dan pelayanan yang jahat dari seorang pelayan (lih.: Lukas 19:22). Alkitab mengajarkan kepada tentang karakter dari seorang pelayan yang baik. Ini dapat dilihat dari teladan YESUS yang ditulis oleh Rasul Paulus (lih.: Filipi 2:3-8). TUHAN YESUS juga mengatakan bahwa IA datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani (lih.: Matius 20:28).
Pelayanan yang dilakukan oleh para pelayan TUHAN sesungguhnya memiliki etika pelayanan. Pada dasarnya, etika pelayanan terkait dengan (1) hubungan antara eksistensi dengan statusnya sebagai pelayan TUHAN dalam melayani, (2) aktifitas pelayanan yang dilakukan, dan (3) pelayanan tidak hanya dilakukan oleh satu orang saja melainkan dalam kelompok pelayan TUHAN yang melayani. Dari ketiga hal tersebut di atas maka terbentuklah rangkaian etika pelayanan yang meliputi, antara lain:
Bertanggung jawab
Taat
Tepat waktu/disiplin
Loyal/Setia
Memiliki skala prioritas yang jelas dalam semua bidang kehidupan yang dijalani
Menghargai orang lain

CATATAN PENUTUP
“… serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada ALLAH untuk
menjadi senjata-senjata kebenaran”
(Roma 6:13)
Dari uraian di atas maka jelaslah bahwa komitmen dalam pelayanan menjadi keharusan alias wajib hukumnya.
Tanpa komitmen yang teguh maka pelayanan hanya berujung pada kesia-siaan belaka karena yang diandalkan adalah kekuatan dan kemampuan alias ego dan hawa nafsu belaka.
Oleh karena itu, apapun status, jabatan, dan posisi setiap umat yang mengaku percaya dan beriman kepada TUHAN YESUS (baca: apakah sebagai seorang presbiter, baik pendeta, penatua, dan diaken, sebagai badan pengurus maupun pelayan di BPK dan komisi, sebagai warga jemaat biasa, sebagai pasangan suami-istri kristen, sebagai orang tua kristen, etc), dalam melayani haruslah didasari pada komitmen yang total. Pelayanan yang berlandaskan pada komitmen adalah cerminan orang-orang yang mengandalkan TUHAN. Sebaliknya, pelayanan yang tidak berlandaskan pada komitmen adalah cerminan dari orang-orang yang hanya mengandalkan pada ego/hawa nafsu manusia belaka. Pelayanan yang berlandaskan pada komitmen total, dapat dipastikan akan menghasilkan buah-buah ranum yang sesuai dengan yang dikehendaki TUHAN YESUS. Buah-buah ranum tersebut tercermin dari pikiran, tutur kata, dan perbuatan yang rela untuk menyangkal diri dan setia memikul salib.

Rohadi Joshua Sutisna (Pdt.)
GPIB jemaat “Bethania” DKI Jakarta

Label: ,



comment? / top


title: Arti Sahabat SEJATI
date: Selasa, 14 Juli 2009
time:7/14/2009 12:07:00 PM
Jika ada orang bertanya kepada kita, “apa arti seorang sahabat bagi kita?”
Pasti banyak yang ingin kita ungkapkan perihal pertanyaan tersebut. Sesuai dengan survey yang saya buat di sekolah tempat saya mengajar (SMA Candra Naya), saya mengajukan pertanyaan tersebut kepada murid-murid dan para guru, dan inilah pendapat mereka tentang sahabat bagi mereka : Para murid ( kelas XII):
1. seorang yang mempunyai arti
2. seorang yang menghargai dan mau menerima kelebihan maupun kekurangan kita/mengerti kita apa adanya
3. seorang yang tidak menjerumuskan kita ke hal yang negatif
4. seorang yang bisa menjadi teman curhat kita
5. seorang yang selalu ada saat kita butuh
6. seorang yang tetap ada saat yang lain menjauh
7. seorang yang seperti saudara
8. seorang yang tidak mengharapkan imbalan jika berbuat sesuatu untuk kita
Tapi…ada seorang murid yang dengan ekstrim menyatakan bahwa tidak pernah ada seorang sahabat sejati, karena “habis manis sepah dibuang”, katanya. Wow…luar biasa…pasti ini adalah pengalaman pribadinya!!
Para guru :
1. seorang yang bisa mengerti segala kekurangan dan kelebihan kita
2. seorang yang selalu menyediakan waktu bagi sahabatnya jika dibutuhkan
3. seorang yang ada dan membantu kita pada saat kita menghadapi kesulitan
4. seorang yang rela berkorban untuk kita
Dari semua pendapat tersebut diatas, dapat disimpulkan, bahwa seorang sahabat sejati adalah seorang yang selalu ada bagi sahabatnya, baik dalam keadaan suka atau duka, untuk mendengarkan curahan hati kita, serta rela berkorban bagi sahabatnya.
Jika kita kembali pada Alkitab, ada satu persahabatan yang bisa kita ambil contoh, yaitu persahabatan antara Daud dan Yonathan (anak Saul). Persahabatan mereka begitu banyak aral merintang, sehingga Daud ingin dibunuh oleh Saul, ayah Yonathan. Dalam keadaan demikian Yonathan tetap membantu Daud, bahkan membuat suatu perjanjian (I Samuel 20 : 12 -17). Yonathan berbuat demikian karena kasihnya pada Daud, seperti pada dirinya sendiri (ayat 17).
Bisa disimpulkan bahwa Yonathan menaruh kasih sebagai dasar dari persahabatannya dengan Daud, dan itu dia buktikan dengan tetap ada bagi Daud pada saat Daud mengalami kesulitan.
Sober, Terkadang kita dengan mudah berjanji dan berkomitmen dengan sahabat kita, yang selalu diawali dengan baik. Tapi…pada saat sahabat kita mengalami kesulitan/kesukaran/kekurangan dalam hidup, tak jarang sahabat kita meninggalkan kita sendirian.
Jika itu terjadi…, bukankah tragis? Maka tak jarang banyak orang yang kecewa dengan sahabatnya, bahkan sampai membuat pernyataan, bahwa tidak ada sahabat yang sejati, karena sahabat sejati teruji saat kita mengalami kesulitan. Firman Tuhan mengatakan, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17:17)
Berlandaskan Firman Tuhan tersebut, bisa kita tarik kesimpulan bahwa seorang sahabat yang sejati adalah saudara jika kita mengalami kesukaran dan persahabatan yang sejati selalu dilandasi oleh KASIH. Jika persahabatan sejati dilandasi kasih, maka persahabatan itu tidak akan mengharapkan imbalan.
Sekarang…ada beberapa pertanyaan. Yang dapat menjawab semua pertanyaan itu hanyalah diri kita sendiri.
Dapatkah kita menjadi sahabat yang sejati?
Apakah kita bisa diandalkan?
Dan selalu punya waktu pada saat kita dibutuhkan?
Apakah kita rela berkorban bagi sahabat kita?
Dapatkah kita tetap ada bersama dengan dia, atau bisa membantu dia pada saat dia mengalami kesukaran dalam hidup?
Sudah siapkah kita untuk menjadi seorang sahabat yang sejati?
Ada satu sobatku yang setia
Dia tak akan pernah tinggalkanku
Di saat aku susah, saatku sendirian
Dia s’lalu menemani diriku
Masih ingatkah penggalan lagu tersebut diatas?
Menurut sang penulis lagu, siapakah sobat setia yang dimaksud?
Ya…benar, Sobat setia yang dimaksud adalah Tuhan kita Yesus Kristus.
Ada lagi penggalan lagu yang menyatakan Yesus sebagai sahabat,…..
Di hidupku, ku ada sobat yang setia
Yang s’nantiasa berjalan sertaku
Masa gelap dibuatNya terang ceria
Itulah janji juruslamatku
Jika penulis lagu dapat merasakan bahwa Yesuslah Sahabat sejatinya, bagaimana dengan kita?



by : Dkn. Titiek Walangitan-Mangowal

Label: ,



comment? / top


title: Paskah Yesus Kristus
date: Kamis, 18 Juni 2009
time:6/18/2009 11:21:00 AM
Paskah Yesus Kristus
Pembebasan dengan Revolusi Kasih
(Baca : Yesaya 42 : 1 – 9; Lukas 4 : 16 – 18)
By: Pnt. Argopandoyo
Bebas euy!!! Begitu pekikan sebuah iklan yang sempat menjadi jargon sebuah produk obat. Pekik kebebasan tersebut menggambarkan kebahagiaan seseorang yang terlepas dari himpitan sakit penyakit. Kebebasan yang lebih jauh lagi, pernah terjadi saat bangsa ini terlepas dari penindasan penjajahan, yang konon sangat mengekang kebebasan gerak bangsa ini. Hal ini juga yang seharusnya diinsyafi oleh orang-orang Kristen dalam memaknai pembebasan yang diberikan Yesus Kristus sebagai pemimpin, yang mengasihi umat manusia.
Kebanyakan Kristen di dunia dan juga di Indonesia, secara serentak merayakan hari pembebasan ini sebagai kemenangan besar dari ketertindasan dosa, yang dikenal dengan Paskah. Paskah bagi kalangan Kristen telah diterima sebagai pengajaran iman tentang kemenangan manusia atas dosa karena kehendak Tuhan. Dan generasi Kristen sejak dahulu hingga kini juga telah disodorkan cerita tentang Paskah sebagai kemenangan yang diberikan dengan cuma-cuma, dan bukan percuma.
Jadi, Paskah, bukan sekedar atau kebangkitan Kristus atau Mesiah atau Mesias dan juga Al Masih. Tapi Paskah juga yang benar-benar memperlihatkan ke Mesias-an Yesus, pada akhirnya. Karena sebagai Kristen, Isa adalah Al Masih titisan sang Khalik, Khadirun jagad buana ini. Paskah bagi Kekristenan adalah momentum agung bagi seluruh umat manusia yang diledapaskan dari belenggu dosa. Dan patut juga disadari bahwa karya Allah ini adalah untuk segenap kaum, bukan hanya diperuntukan kelompok yang dinamai Kristen.
Kemenangan yang Tuhan berikan melalui kebangkitan ini adalah kemenangan bagi manusia atas belenggu dosa yang mengikat manusia sejak bumi diciptakan, dengan kisah kejatuhan manusia di Taman Eden. Dan secara mendasar, inilah model pengimanan yang tidak dapat dipertentangkan. Namun dari bentuk gerakan perjuangan pembebasan ini, dilakukan melalui proses perlawanan yang diakhiri dengan kesan kekalahan. Yah kekalahan yang pantas disebut, menurut ukuran manusia. Dimana sebuah kelompok perlawananan pimpinan Yesus, harus terkocar-kacir saat pimpinan-Nya, Yesus, ditangkap. Sejarah Romawi mencatat Yesus Orang Nazareth sebagai pemimpin kelompok bawah tanah yang menjalankan pengaruh perlawanan terhadap kekuasaan Romawi selain juga tercatat sebagai pemimpin aliran penyesat agama Yahudi di Tanah Palestina.
Gerakan Pembebasan bagi bangsa Yahudi di Tanah Palestina ini memang telah kalah. Paling tidak pada saat itu. Namun proses penghukuman yang tercatat dijalankan Yesus justru memenangkan perjuangan pengajaran Yesus. Pengajaran itu memiliki pengaruh yang kian meluas ke seluruh wilayah kekuasaan Romawi bahkan juga benua juga dunia. Dan bila kita menyadari, pengajaran dan pengimanan tentang Ke-Tuhan-an Yesus, mendominasi kehidupan di muka bum ini. Jadi kekalahan kelompok pengajaran baru pimpinan Yesus, saat itu, berubah drastis, menjadi kemenanngan mutlak, baik secara iman juga menurut ukuran manusia.
Kemenangan Kristus ini adalah kemenangan Allah dalam mewujudkan keinginanNya yang telah dinubuatkan kitab para nabi. Kemenangan penggenapan yang dilalui dengan cara yang unik ini, juga menggambarkan perlawanan terhadap kekuasaan. Perlawanan yang dilakukan dengan kasih sayang ini tentunya sangat membingungkan peradaban pada masa itu. Dimana sebuah pemimpin pergerakan yang telah memiliki pengikut banyak ini tidak pernah berperang dengan senjata, namun berperang dengan kasih sayang terhadap lawannya. Bahkan Ia tidak ada darah lawan-Nya yang tertumpah sekalipun darah-Nya tertumpah. Namun demikian para penghukum-Nya tidak dengan mudah mengalahkan-Nya. Inilah makna pembebasan yang sesungguhnya, yaitu pembebasan gratis yang dilakukan tidak dengan cara instan. Namun harus melalui penderitaan yang amat sangat menyakitkan tubuh, menyakitkan hati dan menyakitkan harga diri.
Terlepas dari kisah yang telah difilmkan ini, sejarah Romawi dan penguasa wilayah Yudea di tanah Palestina juga mencatat peristiwa berdarah ini. Dan inilah kisah pembebasan yang sebaiknya tidak hanya digunakan oleh orang-orang Kristen sebagai kebanggaan semata. Namun terlebih dari itu semua, peristiwa pembebasan dari tawanan dosa ini, harus bisa dijadikan teladan dalam menjalankan kehidupan ini. Dan tentunya dapat menjadi referensi mutlak bagi para pemimpin-pemimpin Kristen, pemimpin dunia, khususnya para petinggi-petinggi di negeri ini dapat menginsyafi, bahwa karya yang diinisiatifkan Allah, dapat diaplikasikan dalam menjalankan kepemimpinan.
Kepemimpinan Yesus orang Nazareth itu adalah kepemimpinan yang menghampiri orang-orang yang akan dibelanya. Tanpa perlu memaksakan keinginan-Nya, Yesus orang Nazareth itu memulainya dengan pengajaran dan pengajaran. Memberikan keteduhan pada perasaan yang mendengar pengajaran-Nya, adalah bagian dari pengajaran-Nya. Ia menginformasikan hal-hal yang memperbaiki gaya hidup yang salah, yang sebelumnya telah tertanam dalam kehidupan masyarakat Yahudi saat itu.
Bukan saja pengajaran kehidupan bermasyarakat yang Yesus ubah, namun juga ajaran keagamaan yang salah pemahaman dalam masyarakat Yahudi. Ia juga memberikan kehidupan yang menyehatkan bagi orang-orang yang datang kepada-Nya. Itulah hal-hal mendasar yang sangat dibutuhkan masyarakat dari jaman ke jaman. Pendidikan yang mencerdaskan masyarakat, pemahaman Iman yang tidak terkontaminasi oleh kepentingan pejabat-pejabat keagamaan, dan juga kesehatan bagi masyarakat banyak. Pembebasan yang Yesus contohkan hendaknya dapat kita lanjutkan dalam kehidupan jaman ini.
Revolusi sosial! itulah ungkapan yang terdengar arogan dan berbau politik. Namun inilah yang Tuhan Yesus lakukan dalam melakukan pembebasan bagi setiap umat manusia. Revolusi sosial yang Tuhan Yesus berikan, dapat kita lakukan sebagai pembaruan yang mengacu pada pembebasan karya Illahi, yang berlandaskan kasih sayang dan bukan revolusi yang berlandaskan kekerasan. Revolusi sosial yang mencerdaskan setiap orang dalam menyikapi ungkapan-ungkapan sentimentil purba dari cerita-cerita usang nenek moyang.
Revolusi yang Tuhan Yesus hadirkan adalah Revolusi Sosial yang berlandaskan tatanan Alkitabiah pada masyarakat yang sedang berkembang, bukan berlandsaskan pada fundamentalisme buta, bagi kebanggaan budaya masa lalu, yang tidak melupakan budaya masyarakat kebanyakan. Ini berarti kita perlu mencermati dengan segala pemberitaan ketuhanan, dengan cara mencermati dengan pemahaman kasih karunia Allah. Bukan dengan apa yang kita inginkan. Dan hal ini bisa kita dapati dengan kuasa doa, yang pada akhirnya dapat ditangkap dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi.
Revolusi yang Tuhan Yesus hadirkan adalah revolusi yang menyehatkan setiap umat manusia, tanpa melihat tatanan terbatas pada Capital oriented. Bahwa pendidikan, keimanan juga kesehatan tidak dapat diperoleh hanya karena jumlah keuangan. Namun semua dapat disalurkan dan diberikan pada setiap orang hanya dengan kasih sayang dari Tuhan.
Dalam menyikapi hal ini tentunya orang-orang muda gereja dapat meneladani pola kepemimpinan Yesus Kristus sebagai pembebas, dalam kehidupan sehari-hari. Pembebasan dapat dimulai dari diri sendiri. Revolusi penyadaran dimulai dalam hati. Seperti Yesus yang menampik segala godaan iblis, sebelum melakukan pengajaran-pengajaranNya. Bahwa kita bisa melihat diri kita yang selalu terbelenggu dengan dualisme iman. Misalnya, kita selalu merasa, bahkan menyatakan mengasihi Tuhan. Namun hidup kita selalu dalam kekuasaan uang. Kita tahu bahwa, kita tidak bisa tunduk pada Tuhan dan pada saat yang bersamaan kita menghamba pada Mamon dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Seakan Tuhan tidak pernah mencukupi kebutuhan kita, melebihi kecukupan yang Ia berikan pada burung di udara dan bunga bakung di padang belantara.
Kalau orang-orang muda telah bisa membebaskan keterbelengguannya, Tuhan juga telah mempersiapkan kelompok sosial yang terbatas. Keluarga! Inilah objek pembebasan berikutnya yang orang-orang muda bisa lakukan. Setiap orang muda bisa menjadi teladan bagi keluarga, dengan melakukan pembaruan hidup yang berorientasi pada Allah, yang menunjukan pola pikir dan pola laku yang tidak lagi Capital oriented. Suatu pembaharuan yang fantastis bila salah seseorang anggota keluarganya bisa melihat betapa nyamannya kita yang tidak melakukan segala kegiatan dengan terpaku pada jumlah uang yang kita miliki. Orang-orang muda bisa menunjukan kebenaran firman bahwa ada atau tidaknya uang adalah anugerah yang selalu harus direspon dengan ungkapan syukur. Hal yang sulit bila kita tidak berani mencobanya. Karena iman yang hidup adalah iman yang dilakukan dalam tingkah laku kehidupan sehari-hari. Karena itu adalah ibadah kita yang sejati!
Orang-orang muda adalah pribadi yang harus berani menentukan dirinya untuk menjadi saluran berkat bagi keluarga dan juga orang lain diluar keluarga. Dan semua bisa diceritakan dalam sebuah persekutuan orang-orang muda yang memang telah Tuhan berikan untuk saling menguatkan dan menegur satu sama lain dalam melakukan kelanjutan karya pembebasan Allah bagi umat manusia di zaman ini. Pesekutuan orang-orang percaya! Begitu gereja-gereja memberikan sebutan. Dan Gereja kita, GPIB mengkategorikan dalam kategori pelayanan usia pemuda dengan nama Gerakan Pemuda atau BPK GP GPIB. Gerakan tidak berdiam diri. Dan pemuda yang bergerak bagi Kristus adalah pemuda yang memperbaharui kehidupan ini dengan kasih sayang Kristus yang membebaskan. Selamat membebaskan dengan revolusi pembebasan ala Kasih Yesus Kristus. Amin.

Label: ,



comment? / top