Yahya YOUTH


GP Yahya??

GERAKAN PEMUDA (GP)
GP GPIB baru terbentuk pada 15 Juli 1950. Melalui pembentukan Dewan Pemuda yang mengkoordiinasi kegiatan-kegiatan pelayanan pemuda dan sekolah minggu.(dan akhirnya sekarang disebut dengan BPK GERAKAN PEMUDA)

VISI: MISI BPK GP GPIB
Menjadikan Pemuda GPIB yang Misioner – dalam hal :
1. Benteng Iman / Spiritualitas
2. Sosialisasi (Program)
3. Wawasan Kebangsaan Global (Oikumene Gereja-Gereja)
4. Kader Gerja dan masyarakat
5. Pembinaan yang tepat guna
GP GPIB Yahya
Gerakan Pemuda GPIB Yahya merupakan salah satu Badan Pelayanan Kategorial (BPK) GPIB Jemaat Yahya sebagai wadah pembinaan warga GPIB yang berusia 18-35 tahun.

Susunan Pengurus GP GPIB Yahya periode 2007-2012:
Ketua: Samuel C Pantou
Wakil Ketua: Robin Sitorus
Sekretaris: Elfa Karwur
Bendahara: Silviarani S.
Bid. Imaji: Yunita Sinaga
Bid. Pel. Kes.: Yohanes Sitorus
Bid. Med. Info.: Alwin Tairas

Kegiatan Rutin: Ibadah GP: Setiap Sabtu jam 17.00
Latihan Paduan Suara GP: Setiap Minggu jam 12.00
Penerbitan Buletin Misioner: Sebulan sekali di pertengahan bulan

Anggota GP GPIB Yahya adalah seluruh pemuda pemudi yang merupakan anggota jemaat GPIB Yahya dan berumur 18-35 tahun.
strikeitalicbold

misc
Kritik dan Saran

ShoutMix chat widget

friends
Channel GP
GP Yahya Facebook
GP Yahya Friendster

thanks
© * étoile filante
inspiration/colours: mintyapple
icons: cablelines
reference: x / x

past
November 2007
Juni 2008
September 2008
Juni 2009
Juli 2009
title: Komitmen Dalam Membina Suatu Hubungan
date: Jumat, 17 Juli 2009
time:7/17/2009 07:42:00 PM

Komitmen Dalam Membina Suatu Hubungan
“… Saya berjanji akan mengasihimu, mendampingimu dan melindungimu, dalam keadaan kelimpahan maupun kekurangan, sehat maupun sakit. Berjanji tetap setia padamu dalam keadaan apapun, sampai kematian memisahkan kita.”
Wow.. indah sekali janji ini. Mungkin setiap kali kita mendengarkannya, entah di gereja menyaksikan langsung seseorang mengucapkannya ataupun di televisi dalam adegan suatu film, kita sampai ingin mengeluarkan air mata. Ini adalah janji yang agung, janji yang sangat romantis. Tapi, kalo dipikir lebih jauh lagi.. Setia pada seseorang (SATU orang), berjanji akan mengasihinya, mendampinginya selalu, dalam keadaan apapun, termasuk dalam keadaan kekurangan, dalam keadaan sakit, dalam keadaaan susah harus tetap setia. Dan itu sampai kapan? Sampai KEMATIAN memisahkan.. Oow.. koq jadi ngeri ya? Koq jadinya janji yang indah ini terasa sangat berat untuk dijalankan? Mungkinkah kita memegang komitmen ini?
Kalau kita memulai pemikiran kita dari point ini, memang akan terasa berat sekali untuk memegang komitmen pernikahan. Tetapi mari kita mundur ke langkah awal dari komitmen ini. Katakan saja ada sepasang anak muda yang bernama Adi dan Nana. Mereka tidak saling mengenal sebelumnya, sampai seorang teman mengenalkan Nana kepada Adi. Akhirnya, mulailah komitmen Adi dan Nana untuk berteman. Setelah beberapa waktu Adi dan Nana berteman, mereka sering meluangkan waktu bersama-sama, sehingga membuat mereka semakin mengenal. Ternyata pengenalan itu membuahkan perasaan suka yang tidak bertepuk sebelah tangan. Maka Adi dan Nana pun berkomitmen untuk menjadi sepasang kekasih. Dalam hubungan asmara yang semakin dekat, Adi dan Nana masing-masing semakin menyadari bahwa inilah pribadi yang ingin aku nikahi, dialah seseorang yang ingin aku jadikan sebagai pasangan hidupku. Pada akhirnya Adi melamar Nana, dan mereka mengambil komitmen untuk bertunangan. Adi dan Nana mulai sibuk mempersiapkan pernikahan mereka, mulai dari penentuan tanggal, tempat, acara, katering, undangan, souvenir, dll. Dan pada tanggal yang sudah ditentukan, Adi dan Nana mengucapkan janji pernikahan, berkomitmen untuk menjadi suami dan istri sampai kematian memisahkan mereka.
Ternyata sebelum kita mengambil komitmen pernikahan, kita ”dilatih” untuk memegang komitmen-komitmen sebelumnya. Kita tidak langsung terjun pada janji ”Sampai kematian memisahkan kita”. Tapi kita melalui beberapa tahap komitmen, yang ”membuat” kita berani untuk mengambil langkah komitmen yang lebih jauh. Diawali dengan komitmen untuk berteman dengan calon pasangan kita. Masa sih kita butuh komitmen untuk berteman? Sadar atau tidak sadar, untuk berteman dengan seseorang, kita butuh komitmen. Paling sedikit komitmen untuk mengingat namanya, untuk menyapanya ketika bertemu, untuk memperhatikan keadaannya dan bertanya apa yang terjadi ketika wajahnya terlihat murung, dll. Lalu berkomitmen untuk berpacaran, untuk memulai suatu hubungan yang eksklusif dengan satu orang saja. Kemudian, komitmen itu meningkat pada tahap pertunangan, di mana seseorang berkomitmen untuk menikahi pasangannya. Dan pada akhirnya berkomitmen dalam pernikahan itu sendiri, menjadi sepasang suami istri.
Lalu, apa sih prinsip Firman Tuhan buat kita untuk berkomitmen dalam suatu hubungan? Entah hubungan pertemanan, persahabatan, keluarga, pacaran, atau sampai pernikahan, prinsipnya sama saja, yaitu:
Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:39).
Seperti yang Tuhan Yesus jawab kepada seorang ahli taurat yang bertanya kepadaNya, hukum terutama dalam hukum taurat adalah ”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Matius 22:37). Lalu hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Itulah perintah Tuhan Yesus, itulah hukum yang terutama yang menjadi dasar dari setiap hubungan kita dengan sesama manusia. Dengan dasar apakah kita dapat mengasihi sesama kita? Dengan dasar kasih Tuhan yang sudah mengasihi kita terlebih dahulu dan mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Dalam memegang setiap komitmen yang kita ambil, ingatlah.. Tuhan Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Apakah langkah praktisnya? ”Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Matius 7:12a). Ayat ini bukan mendorong kita untuk bertindak pamrih, mengharapkan orang lain membalas perbuatan baik kita. Tetapi Tuhan Yesus mau mengajarkan agar ketika kita berelasi dengan seseorang, perbuatlah yang terbaik.
” Kiranya Allah Tritunggal menguatkan janji saya, serta memampukan saya menjadi seorang suami, sebagaimana layaknya seorang suami yang beriman kepada Tuhan Yesus Kristus.”
Dan kita jangan sampai lupa pada bagian janji ini. Memang betul ketika kita merasa kita tidak dapat memegang janji pernikahan tersebut, jika kita mengandalkan kekuatan diri kita sendiri. Tanpa anugerah Tuhan, kita tidak akan bisa menepati janji yang kita ikrarkan. Tetapi, dalam pimpinan dan penyertaan Tuhan, kita punya kekuatan untuk memegang komitmen kita. Kiranya Allah Tritunggal yang menguatkan komitmen-komitmen kita, yang memampukan kita untuk melaksanakan setiap komitmen yang kita ambil. (LP)

Label:



comment? / top


title: Mari Aktif Melayani
date:
time:7/17/2009 07:35:00 PM
Salam sejahtera dan salam kenal bagi pembaca setia Misioner, perkenalkan saya Daniel Panama dari Jemaat GPIB Sola Gratia Bogor. Melalui artikel ini saya diminta untuk mengajak mereka yang belum aktif menjadi turut aktif melayani sesuai dengan tema Misioner pada edisi bulan ini yaitu tentang Komitmen Melayani.
Pembaca Misioner, ketika saya menggumuli tema di atas, saya teringat dengan tulisan Rick Warren dalam bukunya yang berjudul “The Purpose Driven Life” yang pernah saya baca. Dalam buku itu, penulis mengatakan salah satu rencana Allah sebagai tujuan hidup kita manusia adalah untuk melayani dan ada empat alasan mengapa kita dituntut untuk melayani Tuhan, yaitu karena kita:

1. Diciptakan untuk melayani.
Alkitab berkata, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10). Dalam ayat ini dengan jelas disampaikan bahwa tujuan kita diciptakan adalah untuk melakukan pekerjaan baik, dan ketika kita melakukannya hal tersebut merupakan wujud pelayanan kita pada Allah. Seperti firman Tuhan katakan kepada kepada nabi Yeremia dan juga berlaku bagi kita saat ini, bahwa sebelum kita keluar dari kandungan pun, Tuhan telah menetapkan kita sebagai pelayanNya (band.Yer 1:5).

2. Diselamatkan untuk melayani.
Allah telah menyelamatkan kita dengan harga yang mahal, yaitu melaui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Allah menyelamatkan manusia bukan karena perbutan kita, namun kita diselamatkan untuk maksud dan rencana Allah atas kasih karuniaNya sendiri (band 2 Tim 1 : 9). Rasul Paulus berkata “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”(1 Kor 6 : 20). Allah menghendaki agar kita melayani bukan karena rasa takut atau rasa bersalah, namun sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan dari Allah pada kita. Alkitab pun berkata bahwa salah satu tanda bahwa kita telah diselamatkan adalah dengan dengan mengasihi saudara kita (band. 1 Yoh 3 : 14). Jika kita tidak mengasihi saudara kita, tidak memiliki keinginan untuk membantu sesama, dan hanya peduli dengan kepentingan diri sendiri, mungkin kita perlu introspeksi diri apakah Kristus sunguh-sungguh ada di dalam hidup kita?
Salah satu kisah dalam Alkitab yaitu ketika Ibu mertua Petrus yang sakit demam dan menerima kesembuhan oleh Yesus, ia pun segera bangun dan segera melayani Yesus dengan anugerah yang dia terima (band.Mat 8:15). Semangat ini pun yang harus kita miliki sebagai umat yang telah menerima anugerah keselamatan dari Tuhan. Ketika kita memperoleh anugerah keselamatan kita pun dituntut untuk melayani Tuhan, bukan hanya sekedar diam dan menunggu diangkat ke surga.

3. Dipanggil untuk melayani.
Ada anggapan bahwa panggilan untuk melayani hanya bagi seorang pendeta, penatua, diaken, atau orang-orang lain yang bekerja secara full timer di Gereja, namun Alkitab mengatakan, bahwa setiap kita yang menjawab panggilan Kristus haruslah meneladaniNya dengan cara melayani sesama (Rom 8 : 28 -29). Kita dipanggil untuk melayani Tuhan. Melayani berarti melakukan pekerjaan untuk tuan yang kita layani. Tuan kita adalah Allah. Apapun kesibukan dan karir kita saat ini, mari kita menjawab panggilan kita untuk menjadi pelayan Kristus.

4. Diperintahkan untuk melayani.
Alkitab berkata “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mat 20:28). Bagi setiap pengikut Kristus, pelayanan bukanlah suatu pilihan, namun suatu keharusan untuk menjadi bagian hidup dari setiap orang Kristen. Sama seperti Yesus datang untuk melayani dan memberi, hendaknya kedua hal ini pun dapat kita lakukan sebagai seorang pengikut Kristus.
Pembaca Misioner, empat poin di atas merupakan alasan yang kuat bagi kita untuk mulai melayani. Namun seperti yang kita tahu, bagi dunia saat ini mungkin menjadi pelayan bukanlah hal yang diminati. Karena terkadang kita lebih suka untuk dilayani daripada melayani. Seringkali orang berkata “Saya mencari tempat yang dapat memenuhi kebutuhan saya, memberkati saya, menyayangi saya dan mengasihi saya”. Kita selalu ingin agar orang lain dapat melayani kita bukan sebaliknya, namun inilah seharusnya pernyataan kita “Saya mencari tempat untuk saya dapat melayani dan menjadi berkat bagi sesama”.
Pembaca Misioner, mulai hari ini, mari kita terlibat didalam pelayanan dengan bersungguh-sungguh, bukan untuk menjadi pendeta, penatua atau diaken, atau jabatan-jabatan lainnya dalam organisasi di gereja kita, tetapi melalui karunia yang kita terima, hendaklah masing-masing kita mulai dengan melayani sesama anggota tubuh Kristus. Alkitab berkata "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus."(Galatia 6:2). Kita melayani Allah, adalah melayani manusia, melayani mereka orang-orang beriman, saudara-saudara kita didalam Kristus. Ingatlah kata Tuhan Yesus dalam Matius 25:31-46, bukankah saat itu mereka berkata, "Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:37-40).
Mari kita sebagai bagian dari tubuh Kristus, mengambil peran kita masing-masing dan berfungsi selayaknya anggota tubuh Kristus yang hidup (band. Efesus 4:16). Layanilah saudara seiman dengan karunia yang telah diberikan Roh kepada kita, dan mari kita saling mengasihi dan tolong menolong.
Salah satu alasan orang menolak melayani adalah merasa tidak mempunyai kemampuan. Kita bisa saja tergoda untuk menggunakan keterbatasan kita sebagai alasan untuk tidak melakukan beberapa hal, yang sebenarnya bisa kita lakukan jika Allah telah memampukan kita. Jika kita tidak berbakat untuk berbicara di depan umum atau menyanyi di paduan suara, bukan berarti kita boleh berdiam diri saja dan tidak melakukan apa-apa untuk pelayanan. Saat kita menyadari bahwa kita semua mempunyai keterbatasan, marilah kita berusaha mencari pimpinan Allah untuk dapat menggunakan talenta kita. Paulus berkata, "Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut anugerah yang diberikan kepada kita" (Roma 12:6). Tiap orang dilengkapi Tuhan dengan karunia yang berlainan, karena itu carilah tahu apa karunia utama kita, dan layani masing-masing anggota tubuh Kristus dengan karunia tersebut, baik menasihati, melayani, memperhatikan, membimbing, mengajar, memberi dan lain-lain. Kita pasti dapat berdoa. Kita pasti dapat menunjukkan kebaikan kepada orang lain. Kita dapat mengunjungi orang-orang yang kesepian, sakit, dan berusia lanjut. Kita dapat dengan sederhana dan mengena menceritakan betapa berartinya Yesus bagi hidup kita. Perlu saya tegaskan banwa tidak ada pelayanan yang tidak berarti di Gereja. Terkadang nampak jelas, tapi ada juga yang hanya di balik layar, namun keduanya berarti. Seringkali pelayanan “kecil” yang tidak nampak justru memiliki dampak yang besar. Dalam pelayanan, tidak ada korelasi antara ukuran dengan dampak. Setiap pelayan saling bergantung antara satu dengan yang lain menurut fungsinya.
Setiap kita harus mengambil peran masing-masing, kita semua adalah pemain, bukan hanya penonton di dalam gereja. Pantaskah kita berdiam diri, menjadi penonton di dalam gereja? Hanya merasa cukup datang dan mendengar setiap minggunya. Kita tentu tidak pantas disebut anggota tubuh Kristus, sebab kita adalah bagian tubuh yang mati dan tidak berfungsi.
"Don't wait till tomorrow what you can do today". Peribahasa ini juga berlaku dalam kehidupan rohani kita. Tidak ada alasan apapun untuk tidak melayani Tuhan, karena kita semua memiliki kelebihan dan bakat yang berbeda-beda. Miliki komitmen untuk melayani, bukan untuk ketenaran pribadi, tapi untuk kemuliaan Allah yang telah memberikan kita kemampuan untuk itu. "Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin." (1 Petrus 4:11).

Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati kita semua.
By : Pnt. Daniel Panama Sitorus

Label: ,



comment? / top


title: Behind the book
date:
time:7/17/2009 07:31:00 PM
JUDUL BUKU: David Brainerd: Misionaris Bagi Suku Indian Amerika

LATAR BELAKANG PENULIS
John Thornbury adalah Winfield Pastor dari Gereja Baptis dan direktur Kristen Learning Center Pusat Pennsylvania, sebuah seminari perpanjangan dari enam Southern Baptist seminaries. Dia memegang gelar dari Lexington Baptist College, Gettysburg (Luthern) Seminar dan teologi Sekolah Drew University. Pastor Thornbury juga telah belajar di University of Kentucky Moravian teologi dan Seminar. Dia juga merupakan penulis tujuh buku, serta hadiah pemenang pada karangan David Brainerd di Lima Pioneer misionaris.

LATAR BELAKANG BUKU
Buku yang memotivasi dan menggugah ini merupakan salah satu buku seri misionaris perintis yang diterbitkan oleh Penerbit Momentum. Buku ini benar-benar "fine book selection" karena memenangkan hadiah kedua dari kompetisi terbuka yang diselenggarakan oleh Banner of Truth Trust pada tahun 1962, dan ditulis dengan baik sekali oleh Pdt. John Thornbury, B.A., seorang pendeta Baptis di Ashland Kentucky, Amerika Serikat.

PENJELASAN ISI BUKU
"Ini saya, Tuhan, utuslah saya, utuslah saya sampai ke ujung bumi; utuslah saya kepada bangsa kafir yang liar dan ganas di padang belantara; utuslah saya menjauhi segala sesuatu yang dinamakan kenyamanan di bumi, atau kenyamanan duniawi; utuslah saya bahkan kepada maut sekalipun, bila itu dalam pelayanan bagi-Mu dan untuk memperluas kerajaan-Mu," tulis seorang pemuda dalam buku hariannya. Kelak di kemudian hari, buku hariannya tersebut -- "The Memoirs of the Rev. David Brainerd" -- menginspirasi ratusan orang termasuk William Carey, Henry Martyn, Robert M`Cheyne, dan lain-lain untuk menjadi misionaris ke berbagai belahan dunia. Siapakah David Brainerd ini?
David Brainerd (1718 -- 1747) adalah perintis misionaris modern. Ia tidak sedang mengarang cerita fiksi petualangan sewaktu menulis dalam buku hariannya. Ia melakukan dan mengalami sendiri apa yang ditulisnya itu -- mengabarkan Injil dengan penuh semangat kepada suku-suku Indian Amerika yang adalah penyembah berhala, penentang kekristenan, dan pembenci nama Kristus; berjalan bermil-mil melewati ngarai, hutan rimba, dan padang belantara ketika kuda kesayangannya sakit dan mati; diterpa hujan badai, hawa dingin, ancaman binatang buas, kelaparan, kehabisan persediaan air minum, kesepian, penyakit paru-paru turunan; hidup miskin, tanpa rumah, tanpa keluarga; hidup dalam kesendirian dan penderitaan. Ia merupakan sosok pemuda pemberani yang tidak mementingkan dirinya sendiri dan kenyamanan pribadi -- seorang misionaris sejati yang mempersembahkan seluruh hidupnya, jiwa dan raga, untuk Tuhan. Seperti Rasul Paulus, baginya "hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan" (Fil. 1:21). Ia rela menderita dan mati bagi Kristus dalam pelayanannya memberitakan Injil di tempat di mana nama Kristus belum pernah didengar dan dikenal.
Pada zaman posmodern sekarang ini, pemuda seperti Brainerd jarang sekali ditemui di masyarakat kita yang telah terbuai oleh kehidupan hedonisme dan materialisme. Segala kenikmatan dan kemewahan duniawi yang dikejar tiada henti oleh pemuda-pemudi yang hobi balapan, dugem, seks bebas, aborsi, narkoba, dan lain-lain itu dianggap tidak menarik dan sia-sia oleh Brainerd. Ia lebih memilih hidup saleh, banyak membaca Alkitab dan buku-buku rohani, berdoa, berpuasa, merenung, dan menulis buku harian. Ia akan setuju dengan kata-kata salah seorang pengarang besar Perancis, Victor Hugo, "Kesulitan akan membentuk kita menjadi manusia sejati, sedangkan kemakmuran akan membuat kita menjadi monster." Kerinduan dan panggilan hidupnya adalah memberitakan Kristus kepada suku-suku Indian Amerika yang sedang berjalan menuju jurang kegelapan.
Suatu kali, di Sheffield, Massachusetts, ia bertemu dengan seorang utusan dari East Hampton di Long Island, yang telah ditugaskan oleh seluruh penduduk kota dengan suara bulat untuk mengundang dan mendesak Brainerd untuk bekerja di antara mereka sebagai pendeta. Menurut Edwards (Jonathan Edwards, teolog terbesar Amerika yang menjadi bapa rohani dan sahabat dekat Brainerd), undangan ini datang dari salah satu jemaat yang terbesar dan terkaya, di sebuah pulau yang terkenal karena keindahan dan kemakmurannya (hal. 41-42). Namun, Brainerd menolak undangan tersebut. Ia tidak tergoda dengan segala kelimpahan duniawi yang ditawarkan kepadanya. Ia tidak bermain-main sebagai misionaris. Tekadnya sudah bulat untuk memikul salib, menyangkal diri, dan rela menderita bagi Kristus. Dalam buku hariannya, ia menulis demikian: "Atas pilihan saya sendiri, saya terpaksa mengatakan, `Selamat berpisah, teman-teman dan kenyamanan duniawi, juga yang paling saya kasihi, bila Tuhan memintanya: selamat tinggal, selamat tinggal; saya rela menghabiskan hidup saya sampai saat terakhir, dalam gua-gua dan celah-celah gunung di bumi, bila dengan demikian kerajaan Kristus dapat diperluas`" (hal. 79).
Banyak orang Kristen, penginjil, dan pendeta yang membaca "The Memoirs of the Rev. David Brainerd" merasa malu dan tertempelak jika membandingkan kehidupan Brainerd dengan kehidupan mereka yang egois. Sering kali, kita sebagai orang Kristen lebih pandai dan lebih banyak berkata-kata ketimbang melakukan tindakan. Kata-kata yang diucapkan di mimbar dan tindakan yang dilakukan sehari-hari acapkali saling bertentangan. Sebagai para pelayan Tuhan, sering kali bukannya melayani Tuhan, melainkan melayani diri kita sendiri. Kita tidak sepenuh hati dan sungguh-sungguh hidup bagi Kristus dan melayani-Nya.
Walaupun masa hidup (29 tahun) dan kariernya (hanya 4 tahun) singkat, David Brainerd termasuk salah satu tokoh misionaris terbesar Amerika. Melalui penginjilannya, ratusan orang Indian bertobat dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka pribadi. Banyak tokoh yang menjadi teladan dan telah menginspirasi banyak orang, meninggal dunia di usia muda. Pada pertengahan abad ke-20, tepatnya tahun 1956, lima orang misionaris mati martir di Ekuador dibunuh oleh suku Indian Auca. Salah seorang dari lima misionaris martir tersebut adalah Jim Elliot. Ia menjadi martir di usia 29 tahun, usia yang sama dengan Brainerd ketika meninggal karena penyakit paru-paru. Kematian Elliot berdampak luar biasa. Banyak misionaris baru yang terpanggil untuk melayani suku Indian Auca tersebut. Hasilnya, suku kejam tersebut akhirnya terbuka bagi Injil dan banyak jiwa dimenangkan bagi Kristus. (MM)

Label: ,



comment? / top


title: Komitmen dalam Melayani
date:
time:7/17/2009 07:24:00 PM
CATATAN TENTANG KOMITMEN & PELAYANAN
Komitmen
Kata "komitmen" tentu bukan kata yang asing karena sudah terlalu sering didengar dan diperdengarkan oleh banyak orang tanpa memandang status sosial, jabatan, atau pangkat. Secara sederhana komitmen berarti perjanjian untuk melakukan sesuatu, baik dengan diri sendiri, orang lain, suatu organisasi (baca: gereja), maupun dengan TUHAN. Komitmen juga dapat diartikan sebagai pernyataan kehendak atau janji untuk dengan setia melakukan sesuatu yang telah diputuskan. Dengan demikian berkomitmen jelas membutuhkan pengorbanan dan pengabdian. Rasul Paulus adalah contoh yang paling hebat untuk menjadi teladan dan panutan dalam pelayanan yang berlandaskan pada komitmen. Dengan mengacu pada Rasul Paulus maka komitmen dalam pelayanan adalah suatu keharusan alias wajib hukumnya karena sejatinya (1) komitmen adalah dasar bagi seseorang untuk terlibat dalam pelayanan dan (2) kesetiaan seseorang dalam pelayanan tergantung bagaimana orang tersebut memegang komitmennya di hadapan ALLAH. Paulus di dalam surat-suratnya ke jemaat kristen mula-mula selalu mengingatkan serta mendorong umat agar membuat “komitmen” untuk menyerahkan hidup kepada TUHAN (Roma 6:13; 12:1). Bukan hanya membuat “komitmen”, tetapi juga harus setia dan memegang teguh “komitmen” itu sampai akhir hidup (2 Timotius 4:7-8). Berikrar untuk berkomitmen penuh untuk melayani dan setia serta memegang teguh “komitmen” sampai akhir hayat memang tidak mudah; namun sesungguhnya bukan sesuatu yang mustahil, asalkan: (1) punya keberanian untuk mengambil langkah pertama, yakni berkomitmen dalam pelayanan dan (2) hanya mengandalkan TUHAN dalam menunaikan tugas pelayanan karena TUHAN.
Perlu dicatat bahwa salah satu unsur terpenting yang menentukan seseorang akan berhasil dan mendapatkan segalanya adalah komitmen. Dengan demikian komitmen tidak hanya sekadar percaya pada sesuatu, melainkan antara lain:

1. Menepati Apa yang Anda Katakan (Konsisten)
Dalam keluarga, sangat penting bagi setiap suami dan istri untuk memiliki komitmen atas pernikahan dan atas pasangan hidupnya. Setiap suami maupun istri harus menjaga janji pernikahan sebagai suatu ikatan suci. Tidak hanya dalam keluarga, tetapi dalam setiap bidang, komitmen sangat penting dan diperlukan. Demikan pula di gereja, adalah sangat penting apabila pihak yang dilayani dapat mempercayai pihak yang melayani. Oleh karena itu, semua pihak yang terkait (stakeholder pelayanan), tanpa terkecuali, harus konsisten pada komitmen yang sudah diikrarkan. Apabila mengatakan akan melakukan sesuatu maka lakukanlah. Misalnya mengatakan akan datang tepat waktu maka datanglah tepat waktu. Keterlambatan alias jam karet yang terus-menerus menandakan kelemahan. Tidak cukup hanya dengan minta maaf atau memberi alasan mengapa terlambat atau gagal tepat waktu. Tidak seorang pun yang menginginkan alasan! Tidak seorang pun juga yang berhak melalaikan orang lain hanya karena merasa tidak nyaman atau karena sedang mempunyai masalah. Di setiap gereja, orang-orang yang telah menerima tanggung jawab dan melakukan tanggung jawab itu bisa mengatasi segala rintangan yang ada dengan komitmen. Pelajarilah sejarah perkembangan gereja maka akan ditemukan begitu banyak contoh tentang komitmen. Walaupun mengalami luka fisik, luka hati, depresi, dan sebagainya, konsistensi terhadap komitmen dalam memenuhi panggilan dan pengutusan TUHAN membuat pertumbuhan gereja di seluruh dunia demikian dahsyatnya. Dengan demikian komitmen adalah kekonsistenan dalam pelayanan. Dari awal sampai saat ini gereja berakar, bertumbuh, dan berbuah karena konsisten terhadap komitmen.

2. Berani Mengambil Resiko
Komitmen berarti menerima tanggung jawab untuk mengemban suatu tugas tertentu, meskipun pada saat itu ada perasaan yang mengatakan bahwa hanya orang-orang tertentulah yang bisa melayani. Contohnya adalah pelayanan anak di setiap gereja. Banyak orang tua yang beranggapan dan melihat bahwa pelayanan kepada anak hanya menjadi tugas dan tanggungjawab para pengurus atau para pelayan anak. Padahal alkitab (Ulangan 6:6-7) mengatakan bahwa saat TUHAN menganugerahkan seorang anak maka setiap orang tua harus mengajar anak-anaknya tentang TUHAN berulang-ulang. Itu berarti sesungguhnya TUHAN sudah memperlengkapi setiap orang tua dengan karunia untuk membesarkan, menjaga, dan mendidik serta mengajar anak-anaknya. Dengan demikian para orang tua tidak bisa terus-menerus melimpahkan tugas tanggung jawab mengajar anak-anaknya kepada sekolah-sekolah negeri, swasta, atau gereja (baca: pengurus atau pelayan anak). Ini adalah tanggung jawab setiap orang tua. Kebenaran yang sama juga ada dalam hal-hal lain dalam hidup ini.

3. Komitmen yang Berdasarkan Kasih TUHAN YESUS
Banyak orang seringkali merasa bahwa mereka tidak diperlengkapi dengan karunia untuk melayani sehingga percaya harus meniru orang lain supaya bisa efektif. Namun sejatinya, hal tersebut adalah tugas dan pekerjaan atau pelayanan yang muncul dari hati setiap orang tanpa terkecuali. Keterampilan dan talenta akan muncul seiring dengan kasih sesuai dengan yang dikerjakan. Bila menunggu talenta atau keterampilan itu muncul sebelum membagikan talenta yang dimiliki maka sesungguhnya pelayanan tidak akan pernah terwujud. Itu berarti kesempatan yang unik untuk melayani akan hilang. Terjebak pada perasaan sangatlah mudah. Misalnya ketika bangun tidur, muncul perasaan tidak suka untuk melakukan sesuatu sehingga tidak jadi untuk melakukannya. Ingatlah, ini sangat meringankan ”iblis” untuk mencuri sukacita dan kontribusi dalam menyatakan INJIL TUHAN YESUS dan menghadirkan kerajaan ALLAH. Oleh karenanya, tanpa terkecuali, setiap orang yang berakar dan bertumbuh di gereja harus belajar untuk hidup dengan komitmen guna menghasilkan buah-buah kasih. Dengan demikian siapapun yang ada dan hidup dalam konteks gereja harus belajar menjalani kehidupan sesuai komitmen yang didasarkan atas kasih TUHAN YESUS.

Pelayanan
Untuk siapakah pelayanan itu? Untuk keluarga atau sekelompok orang tertentukah? Atau untuk gereja? Pelayanan yang berlandaskan pada komitmen sesungguhnya hanya untuk kemuliaan TUHAN semata. Inilah wujud nyata dari respon umat percaya atas kasih anugerah yang telah TUHAN nyatakan melalui kematian dan kebangkitan YESUS KRISTUS. Melalui pelayanan yang dilandasi oleh komitmen maka semua orang akan dapat menyaksikan, mendengar, dan bahkan melihat, dan bahkan merasakan, betapa TUHAN teramat mencintai dan mengasihi umat ciptaanNYA.
Sehubungan dengan hal di atas maka pelayanan di setiap gereja sejatinya harus meliputi (1) pelayanan ke dalam (Galatia 5:13) dan (2) pelayanan ke luar (Yakobus 1:27). Pelayanan ke dalam dilakukan untuk pendewasaan rohani dan pertumbuhan iman, baik pihak yang melayani maupun yang dilayani (baca: umat). Pelayanan ke luar pada dasarnya dilakukan karena persekutuan umat percaya adalah ”gereja” (baca: ekklesia) yaitu persekutuan umat yang percaya kepada TUHAN YESUS dan dipanggil serta di utus ke tengah dunia. Artinya, sebagai gereja, umat percaya harus memberitakan INJIL TUHAN YESUS dan menghadirkan sukacita dan damai sejahtera TUHAN ke sesama dengan cara menyisihkan sebagian berkat yang dimiliki untuk sesama. GPIB menampung pelayanan yang dilakukan dalam 10 bidang, yaitu: Bidang IAI (teologia), Bidang Pelayanan dan Kesaksian, Bidang Perencanaan & Pembinaan SDI, Bidang Pendidikan, Bidang Pelayanan Kategorial, Bidang Gereja & Masyarakat, Bidang Organisasi & Komunikasi, Bidang Penelitian & Pengembangan, Bidang Ekubang (Daya & Dana), Bidang Umum. Dalam perumpamaanNYA, TUHAN YESUS mengungkapkan tentang pelayananan yang baik dari seorang pelayan (lih.: Lukas 19:17). dan pelayanan yang jahat dari seorang pelayan (lih.: Lukas 19:22). Alkitab mengajarkan kepada tentang karakter dari seorang pelayan yang baik. Ini dapat dilihat dari teladan YESUS yang ditulis oleh Rasul Paulus (lih.: Filipi 2:3-8). TUHAN YESUS juga mengatakan bahwa IA datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani (lih.: Matius 20:28).
Pelayanan yang dilakukan oleh para pelayan TUHAN sesungguhnya memiliki etika pelayanan. Pada dasarnya, etika pelayanan terkait dengan (1) hubungan antara eksistensi dengan statusnya sebagai pelayan TUHAN dalam melayani, (2) aktifitas pelayanan yang dilakukan, dan (3) pelayanan tidak hanya dilakukan oleh satu orang saja melainkan dalam kelompok pelayan TUHAN yang melayani. Dari ketiga hal tersebut di atas maka terbentuklah rangkaian etika pelayanan yang meliputi, antara lain:
Bertanggung jawab
Taat
Tepat waktu/disiplin
Loyal/Setia
Memiliki skala prioritas yang jelas dalam semua bidang kehidupan yang dijalani
Menghargai orang lain

CATATAN PENUTUP
“… serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada ALLAH untuk
menjadi senjata-senjata kebenaran”
(Roma 6:13)
Dari uraian di atas maka jelaslah bahwa komitmen dalam pelayanan menjadi keharusan alias wajib hukumnya.
Tanpa komitmen yang teguh maka pelayanan hanya berujung pada kesia-siaan belaka karena yang diandalkan adalah kekuatan dan kemampuan alias ego dan hawa nafsu belaka.
Oleh karena itu, apapun status, jabatan, dan posisi setiap umat yang mengaku percaya dan beriman kepada TUHAN YESUS (baca: apakah sebagai seorang presbiter, baik pendeta, penatua, dan diaken, sebagai badan pengurus maupun pelayan di BPK dan komisi, sebagai warga jemaat biasa, sebagai pasangan suami-istri kristen, sebagai orang tua kristen, etc), dalam melayani haruslah didasari pada komitmen yang total. Pelayanan yang berlandaskan pada komitmen adalah cerminan orang-orang yang mengandalkan TUHAN. Sebaliknya, pelayanan yang tidak berlandaskan pada komitmen adalah cerminan dari orang-orang yang hanya mengandalkan pada ego/hawa nafsu manusia belaka. Pelayanan yang berlandaskan pada komitmen total, dapat dipastikan akan menghasilkan buah-buah ranum yang sesuai dengan yang dikehendaki TUHAN YESUS. Buah-buah ranum tersebut tercermin dari pikiran, tutur kata, dan perbuatan yang rela untuk menyangkal diri dan setia memikul salib.

Rohadi Joshua Sutisna (Pdt.)
GPIB jemaat “Bethania” DKI Jakarta

Label: ,



comment? / top


title: The Value of Commitment
date:
time:7/17/2009 11:23:00 AM
Apakah itu komitmen? Sebuah kata yang diucapkan oleh seseorang untuk meyakinkan orang lain bahwa dia sungguh-sungguh akan melakukan kewajibannya itu. Komitmen mencakup berbagai aspek, apakah di gereja, kantor, sekolah, pemerintahan, atau dalam kehidupan sehari-hari.
Komitmen itu adalah sebuah keputusan, bukan berjalan dengan perasaan. Orang yang mengatakan komitmen itu tidak penting sebenarnya adalah orang yang menolak komitmen. Sebuah kontrak kerja misalnya, memang tidak menjamin adanya komitmen yang tulus dari kedua belah pihak tapi paling sedikit ia memberi pegangan. Orang bisa melakukan tindakan hukum bila itu dilanggar.
Perkawinan tidak pernah dapat dieksperimenkan. Sebab perkawinan adalah sebuah komitmen. Orang tidak dapat mengeksperimenkan komitmen. Yang mungkin hanyalah menerima atau menolak. Tidak ada peluang untuk coba-coba.
Nah sekarang bagaimana komitmen dalam pelayanan di gereja? Apa pendapat teman-teman GP Yahya tentang komitmen. Sebelumnya beberapa teman-teman GP Yahya mendefinisikan komitmen itu adalah semacam nazar, berjanji akan melakukannya apapun yang terjadi (Elfa). Semacam janji, janji iman untuk melayani (Anes). Ada juga yang mengatakan suatu janji yang harus dijalani sampai selesai (Robin).
Sebenarnya, apa sih komitmen itu? Secara bahasa, komitmen berasal dari bahasa Inggris ”commitment” yang berarti kewajiban, tanggung jawab, sesuatu yang telah dijanjikan. To commit (~oneself) sendiri diartikan sebagai: bertanggung jawab atas, berkewajiban, berjanji. Jika dikaitkan dengan janji dalam pelayanan misalnya menjadi pengurus GP, bisa jadi komitmen menuntut kita untuk tetap konsisten untuk menjalankannya sampai kepengurusan selesai. Konsekuensinya yaitu menyediakan waktu dan tenaga untuk pelayanan. Jadi ketika kita menyatakan komitmen dengan sesuatu, maka sesungguhnya kita sedang menyatakan diri setia dengan satu hal.
Komitmen bukan sekedar diucapkan, tetapi dibarengi action/tindakan. Komitmen tanpa aksi sama saja mubazir dan sia-sia. Anes mengatakan, dibutuhkan kemauan, niat baik, dan tanggung jawab. Senada dengan itu, bukan karena paksaan, bersemangat, dan pantang menyerah, tambahan dari Robin. Elfa menambahkan bahwa dibutuhkan kesiapan hati, tekad yang kuat, dan pikir panjang dulu sebelum mengambil keputusan.
Dari penjelasan diatas diungkapkan bahwa komitmen itu sangat penting peranannya karena itu akan menentukan tujuan akhir yang akan dicapai. Contoh kasus misalnya, seorang mahasiswa teologi mengeluh bahwa ia frustasi menghadapi pendidikan teologi yang diikuti, namun karena harapan orang tua ia terpaksa menyelesaikan pendidikannya. Komitmen apa yang bisa kita harapkan dari calon pendeta demikian? Seorang pendeta yang memiliki komitmen yang kuat untuk memberitakan firman kabar sukacita dari Yesus, menjadi pendeta karena panggilan Tuhan bukan karena profesi. Ada yang memiliki komitmen untuk berkorban dan melayani jemaat sehingga rela mengorbankan hartanya, namun ada juga pendeta sekarang yang komersial atau yang menjadikan ibadah sebagai kesempatan memperoleh laba akibatnya komitmen pendeta banyak yang sekedar asal melayani demi memasuki umur pensiun dan lebih senang berebut kursi organisasi daripada kursi kerajaan surga.
Tidak ada gunanya segudang teori, entah itu seminar, conference, bahkan sekolah Alkitab yang pernah diikuti kalau di dalam diri ini tidak ada komitmen untuk bertumbuh. Komitmen untuk bertumbuh menjadi dewasa membutuhkan proses, tidak ada yang otomatis.
Komitmen itu harus dengan sengaja dilakukan dan dipraktekkan.
Kita jangan berpikir jika kita setiap minggu datang ke gereja kemudian dengan tertib kita memberikan persembahan itu sudah cukup sebagai modal untuk bertumbuh. Mengapa? Karena hidup orang percaya bukan hanya mendengar tetapi ia juga harus taat dan mempraktekkan apa yang sudah didengar. Kita tidak jarang menemukan orang-orang yang sudah mengerti pengetahuan Alkitab, namun tetap hidupnya berantakan. Gosip tetap saja berlangsung, omong kotor tetap diucapkan, dendam tetap ada di dalam hatinya dan tidak ada pengampunan. Semua ini dapat terjadi karena tidak adanya komitmen di dalam dirinya untuk bertumbuh.
Tidak mudah mempertahankan sebuah komitmen, perlu waktu dan proses, tidak dapat secara instan. Yesus melakukan pelayanan-Nya sampai titik darah penghabisan, komitmen sampai akhir. Komitmen teruji pada saat mengalami konflik, kejatuhan dan dalam kondisi tidak nyaman.
Ada korelasi antara konsisten dengan komitmen dalam pelayanan. Elfa mengatakan jika kita konsisten dengan apa yang telah kita kerjakan maka komitmen yang telah kita tetapkan akan tercapai, kalau tidak hasilnya akan tertunda-tunda, malas-malasan, bahkan melakukannya dengan setengah hati. Jadi konsisten dan komitmen itu selaras/saling mendukung seperti kata Anes dan Robin. Misalkan saya mempunyai komitmen setiap bangun pagi harus saat teduh dahulu, jika kita konsisten selalu bangun pagi maka komitmen untuk selalu saat teduh tercapai tetapi jika kita tidak konsisten dengan bangun pagi, selalu telat bangun/malas bangun dan sering menunda-nunda karena harus mengerjakan yang lainnya maka komitmen yang telah dibuat terabaikan.
Tentunnya kita membuat komitmen karena ada tujuan yang ingin dicapai dan jawabannya pun beragam. Elfa misalnya mengatakan berkomitmen memberikan hidup dengan sepenuhnya untuk Tuhan dan tujuan akhirnya memberikan yang terbaik buat Tuhan. Gak mau ketinggalan Robin dan Anes berkomitmen menyelesaikan tugas sebagai pengurus GP sampai selesai, tentu tujuan yang ingin dicapai agar pelayanan di GP tetap berjalan dan bertumbuh.
Segalanya memang berawal dari diri kita jikalau kita memiliki komitmen dan kemauan untuk belajar, maka pada akhirnya semua itu akan memperlihatkan hasil yang baik. Jadi teman-teman pemuda-pemudi, komitmen dalam melayani, haruskah? Ditunggu kedatangannya dalam ibadah GP. (AT)
Quote a quote :
When I stand before God at the end of my life, I would hope that I would not have a single bit of talent left, and could say, "I used everything You gave me."
Erma Bombeck

Label: ,



comment? / top


title: Jakarta oh Jakarta
date: Kamis, 09 Juli 2009
time:7/09/2009 10:53:00 AM

Sadarkah kita bahwa kita saat ini hidup di sebuah kota (Jakarta) yang memiliki jumlah penduduk sebanyak 7.552.444 (data Juni 2007 berasal dari Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil Provinsi DKI Jakarta)? Bahkan jika digabung dengan seluruh jabodetabek jumlah penduduknya mencapai 23 juta jiwa!! Jumlah yang sangat banyak bukan?? Kita hidup di sebuah kota yang sangat padat. Sebuah kota yang penuh dengan beraneka ragam budaya, ras dan agama. Dari warteg (warung tegal), rumah makan padang sampai lapo sangat mudah ditemukan di berbagai tempat di Jakarta. Agama pun beraneka ragam. Menurut data pemerintah DKI Jakarta pada tahun 2005 komposisi penduduk yang beragama Islam 83 %, Kristen Protestan 6,2 %, Katolik 5,7 %, Hindu 1,2 % dan Budha 3,5 %. Masing-masing agama memiliki pusat-pusat tempat peribadatan seperti Masjid Istiqlal untuk umat Islam, Gereja GPIB Imanuel untuk umat Kristiani, Gereja Katedral untuk Katolik, Pura Adhitya Jaya bagi umat Hindu dan Vihara Dhammacakka Jaya untuk yang beragama Budha. Jakarta juga menjadi pusat perekonomian di Indonesia, sehingga membuat jutaan orang tiap tahun memasuki kota ini, dengan harapan dapat menjalani kehidupan ekonomi yang lebih baik. Betapa besar dan megahnya kota ini!!
Kebesaran kota Jakarta tidak akan “lengkap” jika tidak dikaitkan masalah-masalah yang ada di dalamnya. Dari mulai masalah kemiskinan dan kesenjangan ekonomi. Dari mulai gedung perkantoran yang megah sampai rumah di kolong jembatan yang bermodalkan triplek bekas atau bahkan kardus bisa ditemui di Jakarta. Banjir dari tahun ke tahun semakin akrab dengan kehidupan Jakarta. Mudah mencari pekerjaan di Jakarta? Tidak! Malah pengangguran di mana-mana. Angka kejahatan pun sangat tinggi. Kapolda Metro Jaya di awal tahun 2009 pernah mengatakan bahwa kejahatan di Jakarta terjadi setiap 9 menit 21 detik. Pada tahun 2008 tercatat 243 orang per 100.000 penduduk terlibat kasus pidana. Ya.. inilah Jakarta. Kota tempat produktifitas dan masalah berkumpul menjadi satu.
Namun di tengah kota yang sangat besar dan megah ini. Ada satu pribadi diantara jutaan orang yang beraktifitas setiap hari. Ada satu orang yang Tuhan tempatkan di tengah-tengah kota yang penuh dengan kesuksesan dan juga permasalahan bahkan kejahatan. Satu orang itu adalah ANDA!
Jakarta adalah tempat dimana kita membuka mata di pagi hari, kadang dengan kondisi yang segar, kadang juga dengan kondisi yang lelah, letih dan lesu. Jakarta menjadi tempat kita beraktifitas, tempat bagi kita mencari ilmu sampai setinggi langit. Tempat kita berletih lelah bekerja mencari nafkah baik bagi diri sendiri ataupun keluarga kita. Apakah pekerjaan itu di depan layar komputer, mungkin juga bertemu dengan klien-klien dan calon-calon klien, atau bahkan di lapangan berhadapan dengan peralatan-peralatan. Dan ketika hari akan segera berakhir, kitapun masih berada di Jakarta, sang ibukota tercinta. Jakarta menjadi tempat kita menutup mata, untuk beristirahat, menyiapkan energi untuk membuka mata keesokan harinya.
Pernahkah anda bertanya kenapa saya lahir atau paling tidak hidup di kota Jakarta ini? Sudah berapa lama anda hidup di Jakarta? 1 tahun? 5 tahun? 10 tahun? Atau sejak lahir? Pernahkah kita merenung sejenak kenapa kita berada di kota yang megah namun ruet dan glamor namun penuh dengan masalah ini? Jika anda lahir bukan di kota Jakarta, kenapa sekarang harus berada di Jakarta? Jika dari lahir di Jakarta, kenapa harus terus di sini? Sebuah kebetulankah anda hidup di Jakarta?
Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya adalah petunjuk akan satu hal: Anda berada di Jakarta bukanlah suatu kebetulan. Bukanlah suatu kebetulan setiap hari anda berjerih lelah, bekerja, belajar, bertemu kemacetan setiap hari, bertemu atasan yang menyebalkan setiap hari, bertemu dengan dosen-dosen yang “killer” di ruang-ruang kuliah. Bukanlah suatu hal yang kebetulan anda mempunyai keluarga seperti sekarang ini, memiliki teman-teman seperti sekarang ini, memiliki pekerjaan yang seperti sekarang ini. Semuanya BUKAN kebetulan. Kenapa? Karena Tuhan memiliki rencana bagi setiap hidup kita. Termasuk ketika kita ditempatkan di ibukota Jakarta tercinta ini. Mungkin sebagian besar dari kita sudah terlarut dalam rutinitas yang menjemukan, sehingga kita bekerja tanpa tujuan, tanpa semangat, hanya mengejar uang. Sekolah atau kuliah pun hanya karena tekanan orang tua, bukan karena kesadaran bahwa Tuhan memiliki rencana dalam hidup kita.
“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamMya.” Efesus 2:10. Setiap pemuda-pemuda Kristen, khususnya pemuda GPIB Yahya harus menyadari bahwa kita ini adalah buatan Allah. Diciptakan oleh Allah, dan di dalam keberdosaan kita sudah ditebus oleh Allah. Dan semua hal itu sudah dipersiapkan oleh Allah. Jauh sebelum anda memilih universitas untuk kuliah, atau jauh sebelum kita memilih perusahaan untuk tempat kita bekerja. Dipersiapkan untuk apa? Dipersiapkan untuk melakukan pekerjaan yang baik, yang mulia, yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Yang terpenting adalah Tuhan mau kita hidup di dalamNya.
Kita hadir di dunia ini untuk menjadi garam dan terang dunia. Atau bahasa yang lebih aplikatif bagi kita mungkin seperti ini, kita hadir untuk menjadi garam dan terang di Jakarta, di kampus kita, di sekolah kita, di kantor kita, di keluarga kita, di gereja kita, di manapun kita berada. Sekali lagi, kita ditempatkan di tempat-tempat itu bukan secara kebetulan. Kesusahan, air mata dalam perjuangan kita melakukan pekerjaan-pekerjaan yang benar, yang kita alami itu pun bukan terjadi secara kebetulan, mungkin itu semua adalah sebuah jalan yang harus kita tempuh dalam rangka menjadi garam dan terang.
Jadi janganlah kita jenuh, bosan dan patah semangat ketika mengerjakan bagian kita. Kita semua mungkin memiliki bagian yang berbeda-beda, namun itu semua berharga di mata Tuhan. Jangan pernah lelah mengerjakan tugas-tugas kuliah kita, jangan pernah lelah dan malas mengerjakan pekerjaan di kantor, pertahankan integritas kita sebagai orang Kristen di mana pun kita berada. Dan semuanya mari kita lakukan hanya untuk kemuliaan Tuhan. (SCP)

Label:



comment? / top