Yahya YOUTH


GP Yahya??

GERAKAN PEMUDA (GP)
GP GPIB baru terbentuk pada 15 Juli 1950. Melalui pembentukan Dewan Pemuda yang mengkoordiinasi kegiatan-kegiatan pelayanan pemuda dan sekolah minggu.(dan akhirnya sekarang disebut dengan BPK GERAKAN PEMUDA)

VISI: MISI BPK GP GPIB
Menjadikan Pemuda GPIB yang Misioner – dalam hal :
1. Benteng Iman / Spiritualitas
2. Sosialisasi (Program)
3. Wawasan Kebangsaan Global (Oikumene Gereja-Gereja)
4. Kader Gerja dan masyarakat
5. Pembinaan yang tepat guna
GP GPIB Yahya
Gerakan Pemuda GPIB Yahya merupakan salah satu Badan Pelayanan Kategorial (BPK) GPIB Jemaat Yahya sebagai wadah pembinaan warga GPIB yang berusia 18-35 tahun.

Susunan Pengurus GP GPIB Yahya periode 2007-2012:
Ketua: Samuel C Pantou
Wakil Ketua: Robin Sitorus
Sekretaris: Elfa Karwur
Bendahara: Silviarani S.
Bid. Imaji: Yunita Sinaga
Bid. Pel. Kes.: Yohanes Sitorus
Bid. Med. Info.: Alwin Tairas

Kegiatan Rutin: Ibadah GP: Setiap Sabtu jam 17.00
Latihan Paduan Suara GP: Setiap Minggu jam 12.00
Penerbitan Buletin Misioner: Sebulan sekali di pertengahan bulan

Anggota GP GPIB Yahya adalah seluruh pemuda pemudi yang merupakan anggota jemaat GPIB Yahya dan berumur 18-35 tahun.
strikeitalicbold

misc
Kritik dan Saran

ShoutMix chat widget

friends
Channel GP
GP Yahya Facebook
GP Yahya Friendster

thanks
© * étoile filante
inspiration/colours: mintyapple
icons: cablelines
reference: x / x

past
November 2007
Juni 2008
September 2008
Juni 2009
Juli 2009
title: Mari Aktif Melayani
date: Jumat, 17 Juli 2009
time:7/17/2009 07:35:00 PM
Salam sejahtera dan salam kenal bagi pembaca setia Misioner, perkenalkan saya Daniel Panama dari Jemaat GPIB Sola Gratia Bogor. Melalui artikel ini saya diminta untuk mengajak mereka yang belum aktif menjadi turut aktif melayani sesuai dengan tema Misioner pada edisi bulan ini yaitu tentang Komitmen Melayani.
Pembaca Misioner, ketika saya menggumuli tema di atas, saya teringat dengan tulisan Rick Warren dalam bukunya yang berjudul “The Purpose Driven Life” yang pernah saya baca. Dalam buku itu, penulis mengatakan salah satu rencana Allah sebagai tujuan hidup kita manusia adalah untuk melayani dan ada empat alasan mengapa kita dituntut untuk melayani Tuhan, yaitu karena kita:

1. Diciptakan untuk melayani.
Alkitab berkata, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10). Dalam ayat ini dengan jelas disampaikan bahwa tujuan kita diciptakan adalah untuk melakukan pekerjaan baik, dan ketika kita melakukannya hal tersebut merupakan wujud pelayanan kita pada Allah. Seperti firman Tuhan katakan kepada kepada nabi Yeremia dan juga berlaku bagi kita saat ini, bahwa sebelum kita keluar dari kandungan pun, Tuhan telah menetapkan kita sebagai pelayanNya (band.Yer 1:5).

2. Diselamatkan untuk melayani.
Allah telah menyelamatkan kita dengan harga yang mahal, yaitu melaui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Allah menyelamatkan manusia bukan karena perbutan kita, namun kita diselamatkan untuk maksud dan rencana Allah atas kasih karuniaNya sendiri (band 2 Tim 1 : 9). Rasul Paulus berkata “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”(1 Kor 6 : 20). Allah menghendaki agar kita melayani bukan karena rasa takut atau rasa bersalah, namun sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan dari Allah pada kita. Alkitab pun berkata bahwa salah satu tanda bahwa kita telah diselamatkan adalah dengan dengan mengasihi saudara kita (band. 1 Yoh 3 : 14). Jika kita tidak mengasihi saudara kita, tidak memiliki keinginan untuk membantu sesama, dan hanya peduli dengan kepentingan diri sendiri, mungkin kita perlu introspeksi diri apakah Kristus sunguh-sungguh ada di dalam hidup kita?
Salah satu kisah dalam Alkitab yaitu ketika Ibu mertua Petrus yang sakit demam dan menerima kesembuhan oleh Yesus, ia pun segera bangun dan segera melayani Yesus dengan anugerah yang dia terima (band.Mat 8:15). Semangat ini pun yang harus kita miliki sebagai umat yang telah menerima anugerah keselamatan dari Tuhan. Ketika kita memperoleh anugerah keselamatan kita pun dituntut untuk melayani Tuhan, bukan hanya sekedar diam dan menunggu diangkat ke surga.

3. Dipanggil untuk melayani.
Ada anggapan bahwa panggilan untuk melayani hanya bagi seorang pendeta, penatua, diaken, atau orang-orang lain yang bekerja secara full timer di Gereja, namun Alkitab mengatakan, bahwa setiap kita yang menjawab panggilan Kristus haruslah meneladaniNya dengan cara melayani sesama (Rom 8 : 28 -29). Kita dipanggil untuk melayani Tuhan. Melayani berarti melakukan pekerjaan untuk tuan yang kita layani. Tuan kita adalah Allah. Apapun kesibukan dan karir kita saat ini, mari kita menjawab panggilan kita untuk menjadi pelayan Kristus.

4. Diperintahkan untuk melayani.
Alkitab berkata “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Mat 20:28). Bagi setiap pengikut Kristus, pelayanan bukanlah suatu pilihan, namun suatu keharusan untuk menjadi bagian hidup dari setiap orang Kristen. Sama seperti Yesus datang untuk melayani dan memberi, hendaknya kedua hal ini pun dapat kita lakukan sebagai seorang pengikut Kristus.
Pembaca Misioner, empat poin di atas merupakan alasan yang kuat bagi kita untuk mulai melayani. Namun seperti yang kita tahu, bagi dunia saat ini mungkin menjadi pelayan bukanlah hal yang diminati. Karena terkadang kita lebih suka untuk dilayani daripada melayani. Seringkali orang berkata “Saya mencari tempat yang dapat memenuhi kebutuhan saya, memberkati saya, menyayangi saya dan mengasihi saya”. Kita selalu ingin agar orang lain dapat melayani kita bukan sebaliknya, namun inilah seharusnya pernyataan kita “Saya mencari tempat untuk saya dapat melayani dan menjadi berkat bagi sesama”.
Pembaca Misioner, mulai hari ini, mari kita terlibat didalam pelayanan dengan bersungguh-sungguh, bukan untuk menjadi pendeta, penatua atau diaken, atau jabatan-jabatan lainnya dalam organisasi di gereja kita, tetapi melalui karunia yang kita terima, hendaklah masing-masing kita mulai dengan melayani sesama anggota tubuh Kristus. Alkitab berkata "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus."(Galatia 6:2). Kita melayani Allah, adalah melayani manusia, melayani mereka orang-orang beriman, saudara-saudara kita didalam Kristus. Ingatlah kata Tuhan Yesus dalam Matius 25:31-46, bukankah saat itu mereka berkata, "Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:37-40).
Mari kita sebagai bagian dari tubuh Kristus, mengambil peran kita masing-masing dan berfungsi selayaknya anggota tubuh Kristus yang hidup (band. Efesus 4:16). Layanilah saudara seiman dengan karunia yang telah diberikan Roh kepada kita, dan mari kita saling mengasihi dan tolong menolong.
Salah satu alasan orang menolak melayani adalah merasa tidak mempunyai kemampuan. Kita bisa saja tergoda untuk menggunakan keterbatasan kita sebagai alasan untuk tidak melakukan beberapa hal, yang sebenarnya bisa kita lakukan jika Allah telah memampukan kita. Jika kita tidak berbakat untuk berbicara di depan umum atau menyanyi di paduan suara, bukan berarti kita boleh berdiam diri saja dan tidak melakukan apa-apa untuk pelayanan. Saat kita menyadari bahwa kita semua mempunyai keterbatasan, marilah kita berusaha mencari pimpinan Allah untuk dapat menggunakan talenta kita. Paulus berkata, "Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut anugerah yang diberikan kepada kita" (Roma 12:6). Tiap orang dilengkapi Tuhan dengan karunia yang berlainan, karena itu carilah tahu apa karunia utama kita, dan layani masing-masing anggota tubuh Kristus dengan karunia tersebut, baik menasihati, melayani, memperhatikan, membimbing, mengajar, memberi dan lain-lain. Kita pasti dapat berdoa. Kita pasti dapat menunjukkan kebaikan kepada orang lain. Kita dapat mengunjungi orang-orang yang kesepian, sakit, dan berusia lanjut. Kita dapat dengan sederhana dan mengena menceritakan betapa berartinya Yesus bagi hidup kita. Perlu saya tegaskan banwa tidak ada pelayanan yang tidak berarti di Gereja. Terkadang nampak jelas, tapi ada juga yang hanya di balik layar, namun keduanya berarti. Seringkali pelayanan “kecil” yang tidak nampak justru memiliki dampak yang besar. Dalam pelayanan, tidak ada korelasi antara ukuran dengan dampak. Setiap pelayan saling bergantung antara satu dengan yang lain menurut fungsinya.
Setiap kita harus mengambil peran masing-masing, kita semua adalah pemain, bukan hanya penonton di dalam gereja. Pantaskah kita berdiam diri, menjadi penonton di dalam gereja? Hanya merasa cukup datang dan mendengar setiap minggunya. Kita tentu tidak pantas disebut anggota tubuh Kristus, sebab kita adalah bagian tubuh yang mati dan tidak berfungsi.
"Don't wait till tomorrow what you can do today". Peribahasa ini juga berlaku dalam kehidupan rohani kita. Tidak ada alasan apapun untuk tidak melayani Tuhan, karena kita semua memiliki kelebihan dan bakat yang berbeda-beda. Miliki komitmen untuk melayani, bukan untuk ketenaran pribadi, tapi untuk kemuliaan Allah yang telah memberikan kita kemampuan untuk itu. "Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin." (1 Petrus 4:11).

Selamat melayani. Tuhan Yesus memberkati kita semua.
By : Pnt. Daniel Panama Sitorus

Label: ,



comment? / top


title: Makna Kenaikan Yesus Kristus
date: Selasa, 14 Juli 2009
time:7/14/2009 11:41:00 AM

Apa yang kamu bayangkan ketika tahu akan memperingati hari Kenaikan Yesus Kristus? Mungkin tidak terpikir akan ada sesuatu yang istimewa bukan? Sangat berbeda ketika kita akan merayakan Natal atau Paskah. Kenaikan Yesus Kristus biasanya dirayakan biasa-biasa saja. Bahkan tidak sedikit kalangan yang menganggap hal ini tidak penting.
Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi perayaan ini? Benarkah peristiwa ini juga sama pentingnya dengan peristiwa kematian ataupun kebangkitan Kristus? Menurut Pdt. Mangapul Sagala, seorang pelayan di Perkantas dalam tulisannya tentang Makna Kenaikan Kristus (www.sinarharapan.com), peristiwa kenaikan Yesus dalam Kisah Para Rasul 1:6-11 merupakan bagian Injil yang sangat detil dalam menceritakan tentang kenaikan Kristus. Dan berdasarkan kitab ini ada tiga hal yang menjadi dasar kita untuk menerima dan mempercayai kenaikan Kristus.
Pertama, kenaikan Yesus tersebut menegaskan fakta perihal kebangkitan-Nya. Alkitab menegaskan bahwa kenaikan Tuhan Yesus merupakan satu kesatuan dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Menarik sekali bagaimana dokter Lukas memulai kitab Kisah Para Rasul tersebut. "Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia terangkat,” (1:1-2). Jadi, dokter Lukas tidak hanya menulis penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus, melainkan sampai pada hari ia terangkat!
Kedua, kenaikan Yesus ke surga mendemonstrasikan kemenangan-Nya yang sempurna. Alkitab menegaskan bahwa Yesus bukan hanya mengalahkan kuasa penyakit, menghentikan badai dan angin ribut, serta mengalahkan kuasa dosa, melainkan dengan jelas kita membaca bahwa Yesus juga mengalahkan kuasa maut. Lebih dari itu, Yesus sendiri bangkit dari kubur. Sesungguhnya, tidak ada catatan tentang pendiri-pendiri agama atau nabi mana pun yang memiliki kuasa yang setara dengan kuasa Yesus tersebut. Apalagi, faktanya, tentu saja tidak ada.
Ketiga, kenaikan Yesus ke surga menegaskan identitas-Nya yang sesungguhnya. Seseorang pernah mengatakan, “Semua yang hidup akan berakhir ke bawah, karena semua yang hidup akan mati dan dikubur”. Namun tidak demikian dengan Yesus. Tuhan Yesus mengakhiri hidup-Nya ke atas. Kenaikan Yesus tersebut menunjukkan dari mana Dia berasal. Hal itulah yang pernah ditegaskan-Nya kepada orang-orang yang memusuhi-Nya: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini,” (Yoh 8:23). Selanjutnya, dalam pasal berikutnya kita membaca bahwa sambil memandang ke atas, Tuhan Yesus berdoa: “Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu,” (Yoh 17:11). Dengan perkataan lain, kenaikan Yesus ke surga merupakan peristiwa “pulang mudik”. Hal itu dilakukan-Nya, setelah seluruh pekerjaan-Nya selesai (Yoh 17:4).

Amanat Agung
Sebelum Yesus naik ke surga ada pesan yang Ia sampaikan kepada murid-murid-Nya. Matius 28:19-20, ”Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.”. Amanat Agung ini juga masih berlaku sampai saat ini bagi kita yang mempercayai Kristus. Menjadi Saksi Kristus adalah pesan penting yang disampaikan Yesus sebelum Ia benar-benar naik dan terangkat ke surga. “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu. Dan kamu akan menjadi Saksi-Ku di Yerusalem, dan di seluruh Yudea dan Samaria, sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8).

Akhirnya semoga dengan kembali merayakan kenaikan Kristus kita semakin diingatkan akan tugas dan panggilan hidup kita menjadi Saksi Kristus. Dan meskipun peristiwa sejarah ini tidak kita rayakan sebesar perayaan Natal atau Paskah, semoga kita tidak melupakan esensi dari peristiwa Kenaikan Kristus. Amin
(TS)

Label: ,



comment? / top


title: Pembinaan
date: Kamis, 18 Juni 2009
time:6/18/2009 11:15:00 AM

Tahun ini merupakan tahun yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Karena untuk ke dua kalinya bangsa Indonesia akan bukan hanya memilih secara langsung anggota legislatif di DPR dan DPRD, namun juga akan memilih orang terpenting di negara ini yaitu presiden. Ketika memilih seorang presiden atau seorang pemimpin, tentunya kita ingin memilih seseorang yang baik, bijaksana, adil, jujur, memihak kepada rakyat. Tapi seringkali sangat sulit untuk menilai seseorang, apalagi menilai orang-orang yang mencalonkan diri menjadi presiden. Semua pasti mengucapkan janji-janji yang manis, memberikan visi dan misi serta mengutamakan apa rencana-rencana yang akan mereka lakukan seandainya mereka terpilih menjadi seorang presiden Republik Indonesia. Dan hanya ada satu hal yang bisa membuktikan apakah kata-kata mereka hanyalah sebuah kata-kata atau benar-benar mencerminkan diri mereka, yaitu waktulah yang bisa membuktikannya.
Memang waktu membuktikan dan memperlihatkan kita ada begitu banyak pemimpin-pemimpin di dunia ini. Sejarah memperlihatkan ada pemimpin seperti Hitler yang di bawah kepemimpinannya entah berapa juta orang meninggal menjadi korban kekejamannya. Ada juga seorang Abraham Lincoln yang begitu tulus membela negaranya dan memperjuangkan hak asasi manusia bahkan hak asasi manusia bagi pada budak. Sejarah memperlihatkan begitu besar pengaruh seorang pemimpin baik itu raja ataupun presiden bagi negaranya, bahkan bagi dunia.
Di dalam Alkitab kita juga dapat melihat sejarah perjalanan bangsa Israel. Dan di dalam sejarahnya, bangsa Israel pernah mengalami sebuah masa di mana Israel dipimpin oleh raja-raja. Dan pada masa inilah muncul raja-raja yang dipakai Tuhan dengan sangat luar biasa seperti Daud dan Salomo, namun ada raja-raja Israel yang keji dan suka melakukan apa yang jahat di mata Tuhan seperti Omri dan Ahab. Tapi justru di dalam sejarahlah kita bisa melihat betapa luar biasanya penyertaan Tuhan di dalam sejarah. Bahasa Inggris dari sejarah adalah history, dan jika kata ini dipisah bisa menjadi HIS dan Story, yang berarti ceritanya Allah. Ketika kita melihat sejarah, ingatlah bahwa Allah berotoritas dalam sejarah, baik sejarah yang penuh dengan kebaikan ataupun penuh dengan kejahatan, ada rencana Tuhan yang tetap berotoritas.
Jumlah seluruh Raja-Raja yang pernah berkuasa di Israel adalah 43 raja. 3 raja pertama adalah 3 nama yang sangat terkenal yaitu Saul, Daud dan Salomo. Setelah masa pemerintahan Salomo, Tuhan memisahkan kerajaan Israel menjadi dua (1 Raj. 11:35-37) yaitu Kerajaan Israel Utara (yang kemudian disebut dengan Kerajaan Israel) dan Kerajaan Israel Selatan (yang kemudian disebut dengan Kerajaan Yehuda), dan Alkitab mencatat ada 40 raja yang pernah memerintah di 2 kerajaan tersebut, 20 raja di Kerajaan Israel dan 20 raja di Kerajaan Yehuda.
Raja pertama adalah Raja Saul. Saul dikenal sebagai raja yang tidak tegas dan gampang diombang-ambingkan. Kesalahan terbesar yang dia lakukan adalah ketidaktaatannya pada perintah Allah. Sifat Saul yang mudah didesak oleh rakyat membuat dia lebih meninggikan kemauan rakyat daripada perintah Tuhan (I Sam 13-15). Saul lebih memilih untuk memihak rakyat dari pada memihak Allah, dan karena ada kalanya kehendak rakyat dan kehendak Allah berbeda. Pemimpin yang baik dan benar adalah pemimpin yang fokus mencari pimpinan Tuhan dan taat hanya kepada perintah Tuhan. Pemimpin bukan berfungsi untuk menyenangkan hati rakyat, tapi untuk menjalankan dan menyuarakan hati Tuhan. Raja yang populer bukan berarti raja yang sukses dan berhasil.
Siapa yang tidak kenal Daud, semua orang Kristen pasti tahu siapa Daud, bahkan orang yang tidak Kristen pun banyak yang mengenal siapa Daud. Daud sangat terkenal, apalagi kisahnya yang gagah berani ketika ia mengalahkan raksasa orang Filistin yang bernama Goliat. Tapi sebenarnya dibalik pertempuran yang sangat fenomenal itu ada hal yang sangat penting yang harus kita ketahui, yaitu Daud bukan bermodal keberanian, ataupun bermodalkan keahliannya. Tapi yang Daud andalkan dalam pertempuran itu adalah pengenalan akan Allah. Bagaimanakah pengenalan akan Allah bisa menjadi penentu kemenangan Daud? Daud mengatakan bahwa ia mendatangi Goliat atas nama Tuhan, dia sadar dia mewakili Tuhan dan dia sangat sadar bahwa Allah berada di pihak dia dan akan memberikan dia kemenangan, supaya nama Tuhan dipermuliakan (I Sam. 17 45-47). Hanya seseorang yang sangat mengenal Tuhannya yang bisa mengatakan kalimat seperti di I Sam. 17 45-47 tersebut. Ia tahu apa yang Tuhan mau, dan dia beriman kepada hal itu, dan bersandar penuh kepadanya, Daud mengalahkan Goliat bukan karena kekuatannya sendiri, tapi karena Tuhan berpihak kepada dia.
Daud juga dikenal lewat mazmurnya. Mazmur dan puji-pujian yang sangat indah, tapi menunjukkan pengertian yang sangat mendalam. Sangat mengenal Tuhannya. Di dalam mazmur-mazmurnya terkandung begitu banyak doktrin-doktrin penting. Bukan hanya sekedar nyanyian yang dangkal maknanya. Pengenalan akan Allah yang begitu mendalam juga yang menyebabkan dia bisa bereaksi dengan tepat ketika dia jatuh ke dalam dosa oleh karena perzinahan dengan Batsyeba dan pembunuhan Uria, yaitu meminta pengampunan dan pemulihan (Mazmur 51).
Daud menjadi besar bukan karena keberaniannya, namun karena pengenalannya akan Allah yang dia sembah. Karena senantiasa dia bergaul erat dengan Tuhan. Pemimpin yang bergaul erat dengan Tuhan lewat Firman Tuhan/Alkitab adalah pemimpin yang mengerti kehendak Tuhan, dan setiap langkahnya akan diberkati oleh Tuhan karena sesuai dengan kehendak-Nya.
Raja ketiga adalah Salomo. Salomo adalah anak Daud dari Batsyeba. Salomo paling dikenal dari kebijaksanaan dan kearifannya. Salomo di suatu hari ditanya oleh Tuhan "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.". Maka setelah itu jawaban Salomo sangat berbeda dengan kebanyakan orang yang mungkin akan meminta harta, kekuasaan, umur panjang ataupun hal-hal lain untuk memuaskan nafsunya, yang dia minta adalah kebijaksanaan, hati yang paham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat (I Raj. 3:9). Peristiwa yang sangat terkenal ketika ada 2 orang perempuan sundal menghadap raja dan mereka saling memperebutkan seorang anak. Dan dengan sangat bijaksana Salomo berhasil menentukan siapa ibu yang sesungguhnya (I Raj. 3:24-27). Kebijakasanaan menjadi hal yang sangat penting bagi seorang pemimpin. Doa seperti yang Raja Salomo doakan adalah doa yang sangat baik untuk diteladani oleh kita, terlebih lagi oleh para pemimpin.
Raja Salomo memang mengalami akhir hidup yang tidak baik. Karena dia melakukan penyembahan berhala kepada dewa-dewa, dan konsekuensinya adalah Kerajaan Israel harus terbelah menjadi dua. Memang beban tanggung jawab seorang pemimpin sangat besar. Hal-hal yang dilakukannya juga akan menimbulkan konsekuensi bagi negaranya.
Setelah Raja Salomo, pemegang kunci kekuasaan diperebutkan secara jahat. Tahta kerajaan dijatuhkan dengan cara-cara yang sangat kejam, saling bunuh dan menghabisi satu sama lain. Tapi bukan berarti Tuhan tidak punya otoritas di dalam zaman ini. Justru Tuhan memperlihatkan bahwa di dalam kejatuhan bangsa Israel, Dia tetap berdaulat. (Untuk lebih jelas baca kitab I Raja-raja dan II Raja-raja, kedua kitab ini menceritakan dengan jelas sejarah raja-raja Israel)
Israel memiliki sejarah raja-raja yang luar biasa, ada yang luar biasa baik namun tidak sedikit juga yang luar biasa jahat. Semua raja-raja ini memiliki panggilan yang sama, yaitu mentaati pimpinan Allah, dan membawa bangsanya mentaati pimpinan dan perintah Allah tersebut. Ada yang taat ada yang tidak taat. Yang taat pasti akan terus menikmati penyertaan Tuhan, dan yang tidak taat mengalami konsekuensi sesuai penghakiman Tuhan.
Mari kita semua berdoa, supaya pemimpin bangsa kita bisa menjadi pemimpin yang peka terhadap kehendak Tuhan. Bukan pemimpin yang hanya memikirkan kepentingan dirinya ataupun kelompok dan golongan. Kita mohon anugerah Tuhan, supaya bangsa Indonesia bisa memiliki pemimpin-pemimpin yang takut akan Tuhan dan mentaati kehendakNya. (SCP)


Dengarkanlah Doaku Ini, Tuhan

Tuhan, terima kasih atas semua berkat, anugerah serta pimpinan yang telah Engkau berikan bagi bangsa dan negaraku.
Tuhan, saat ini kami sedang dalam proses pencarian sosok yang benar-benar layak memimpin bangsa kami ini, Tolong kami
Tuhan agar pelaksanaan pemilu kali ini agar dapat berjalan dengan lancar sehingga apa yang kami harapkan akan pemimpin masa depan kami dapat tercapai.
Tak henti-hentinya kami juga
berdoa untuk orang-orang yang terpilih dalam pemilu legistatif kali ini dapat menjalankan
pemerintahan sesuai hati nurani mereka serta takut akan peraturan yang telah Engkau buat.
Tuhan jugalah yang memimpin tangan-tangan rakyat-Mu agar kami dapat memilih sesuai dengan hati nurani yang dalam
bimbingan-Mu.
Tuhan doa ini tidaklah sempurna jika Engkau tidak campur tangan. Hanya dalam nama-Mulah aku berdoa dan mengucap syukur.
Amin.

Label: ,



comment? / top